Literasi Alquran dan Masa Depan Peradaban

3 hours ago 6

Sejumlah umat Islam membaca Alquran. Ilustrasi.

Oleh : KH M Cholil Nafis PhD, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ramadhan menghadirkan suasana yang khas dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Masjid-masjid mengumandangkan lantunan ayat suci. Tadarus digelar hampir di setiap sudut kampung.

Mushaf Alquran  dibaca di rumah-rumah, di musala, bahkan di ruang-ruang publik. Ramadhan selalu menguatkan kembali hubungan umat Islam dengan kitab sucinya.

Tidak mengherankan jika bulan ini dikenal sebagai syahrul Qur'an, bulan ketika Alquran pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.

Namun, di tengah suasana religius yang hangat itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur: seberapa banyak umat Islam yang benar-benar mampu membaca Alquran dengan baik?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat realitas literasi Alquran di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, kemampuan membaca Alquran seharusnya menjadi sesuatu yang sangat umum. Tetapi, data justru menunjukkan gambaran yang tidak sederhana.

Meningkatkan budaya membaca

Hasil kajian Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta 2024 menunjukkan, persentase buta aksara al-Qur’an di Indonesia mencapai 58 persen sampai dengan 65 persen.

Sementara data Index Literasi al-Quran Kementerian Agama 2023 menunjukkan, hanya 44,57 persen umat Islam yang mampu membaca ayat dengan lancar sesuai tajwid.

Data ini menggambarkan sebuah paradoks yang cukup tajam. Di negeri yang dihuni muslim terbesar di dunia, kemampuan membaca kitab sucinya justru rendah. Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai persoalan teknis semata.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|