Likes dan Validasi Online sebagai Pertahanan Kesehatan Mental

2 hours ago 3

Image Ardiana Istiqomah

Gaya Hidup | 2026-06-22 14:36:04

Era digital saat ini membuat media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi Gen Z. Platform seperti Instagram tidak lagi sekadar digunakan untuk berbagi foto atau berkomunikasi dengan teman, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun identitas diri, menampilkan pencapaian, dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sosial. Melalui berbagai fitur yang tersedia, user dapat dengan mudah membagikan aktivitas mereka sekaligus menerima tanggapan langsung berupa likes, komentar, maupun pengikut baru.

Fenomena yang terjadi pada Ardila, Zakiya, Manda, Fadli, Muflih, dan Yuli, enam anak Gen Z yang aktif menggunakan Instagram dalam penelitian Safitri dan Indra (2026) dimana mereka menggunakan Instagram hampir setiap hari untuk scrolling maupun mengunggah daily activity sebagai bahan untuk meramaikan Instagram mereka. Bagi mereka, Instagram tidak hanya menjadi media hiburan dan pencarian informasi, tetapi juga media untuk membangun personal branding, mengekspresikan diri, menunjukkan minat dan kemampuan, serta memperluas relasi sosial. Melalui unggahan yang mereka bagikan, mereka berharap dapat dikenal dan memperoleh perhatian dari orang lain.

Ketika mereka mengunggah suatu konten ke Instagram, tanpa mereka sadari likes dan komentar dari orang-orang membuat notifikasi Instagram mereka menjadi ramai. Likes yang mencapai ribuan, komentar yang penuh akan pujian dan emoticon-emoticon dukungan kepada mereka membuat mereka merasakan sesuatu yang sulit untuk mereka jelaskan. Perasaan diakui, dihargai, dan diperhatikan oleh banyak orang sekaligus membuat mereka merasakan kesenangan yang tidak dapat mereka jelaskan. Rasa senang semacam ini bukanlah sebuah kebetulan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Safitri dan Indra (2026), dijelaskan bahwa respon positif seperti likes dan komentar pujian dapat membuat mereka merasa senang, dihargai, dan lebih percaya diri, bahkan mendorong mereka untuk semakin bersemangat membuat konten baru.

Rasa senang yang berlebihan atau biasa disebut dengan euforia merupakan suatu perasaan atau keadaan kegembiraan dan kebahagiaan yang intens, peningkatan kesenangan yang diidamkan untuk memenuhi kebutuhan biologis esensial seseorang (Bearn & O’Brien, 2015). Merasakan euforia itu, mereka seperti ingin merasakannya lagi. Mereka mengunggah sesuatu lagi, berharap mendapatkan attention yang sama ramainya, namun apa yang terjadi adalah sebaliknya. Likes lebih sedikit, komentar nyaris sepi, dan rasa antusias orang-orang tidak sama seperti dulu. Yang tersisa hanyalah kekecewaan, keraguan terhadap diri sendiri, bahkan dorongan untuk menilai ulang apakah konten yang diunggah benar-benar "cukup baik". Pola ini pun bukan sekadar dugaan, penelitian yang sama mencatat bahwa ketika respon yang diterima tidak sesuai harapan, informan mengalami kekecewaan, keraguan diri, hingga menganggap kualitas konten mereka kurang baik. Salah satu dari mereka bahkan mengaku memilih untuk mengarsipkan unggahannya begitu responnya dirasa tidak memuaskan, sebagai semacam cara mengevaluasi penerimaan audiens terhadap dirinya.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana apresiasi di media sosial dapat berubah menjadi kebutuhan akan pengakuan dari orang lain. Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan haus validasi. Validasi adalah pengakuan individu terhadap pengalaman orang lain dalam interaksi sosial. Haus validasi berarti individu sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain dan berkaitan dengan narsisme, yang bersifat self-centered dan self-concerned (Nugraheni, 2014, dikutip dari Tjhia et al., 2024).

Menurut Muslimin & Yusuf (2023), narsisme ditandai dengan kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan (self-centered), senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian (self-concerned), selain itu tertanam dalam dirinya perasaan paling mampu, paling unik (berbeda) dan merasa khusus dibandingkan dengan orang lain (Muslimin & Yusuf, 2023).

Kedua kecenderungan tersebut (self-centered dan self-concerned) tidak berdiri sendiri. Keduanya erat kaitannya dengan bagaimana seseorang memandang nilai dirinya sendiri, atau yang dalam psikologi dikenal sebagai self-esteem. Menurut Guindon yang dikutip dalam Mandas & Silfiyah (2022), self-esteem terdiri atas perasaan berharga dan penerimaan yang diperoleh dan dikembangkan individu atas konsekuensi akan kesadaran kompetensi dan umpan balik dari luar individu. Dengan kata lain, self-esteem seseorang menggambarkan sejauh mana orang tersebut mampu menghargai, menerima, dan menilai dirinya secara positif. Tingkat self-esteem yang dimiliki individu dapat memengaruhi cara mereka merespon penilaian dari lingkungan, termasuk respon yang diterima melalui media sosial seperti likes, komentar, dan bentuk interaksi lainnya. Oleh karena itu, self-esteem menjadi salah satu faktor penting yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih rentan mengalami haus validasi dibandingkan yang lain.

Self-esteem sendiri umumnya dibedakan menjadi dua kategori, tinggi dan rendah. Menurut Shen et al. (2021), seseorang yang memiliki self-esteem tinggi cenderung memiliki pola keterikatan yang aman sejak kecil. Pola keterikatan yang aman membuat individu lebih mudah mengembangkan rasa percaya terhadap dirinya sendiri, merasa berharga tanpa harus bergantung pada penilaian orang lain, serta mampu menerima kelebihan dan kekurangannya secara lebih realistis. Akibatnya, individu dengan self-esteem tinggi cenderung tidak menjadikan pengakuan dari lingkungan sebagai satu-satunya sumber penilaian terhadap dirinya. Sebaliknya, menurut Mandas & Silfiyah (2022), seseorang dengan self-esteem rendah cenderung memiliki sikap rendah diri, selalu menggambarkan dirinya secara negatif, merasa kurang mampu, tidak berharga, dan kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat. Sehingga individu dengan self-esteem rendah cenderung lebih bergantung pada penilaian dan pengakuan dari orang lain untuk memperoleh rasa berharga yang tidak mampu mereka bangun dari dalam dirinya sendiri. Kebutuhan ini membuat individu akan mencari validasi melalui jumlah likes, komentar, maupun bentuk interaksi lainnya sebagai indikator penerimaan sosial yang mana merupakan perilaku haus validasi. Akibatnya, ketika respon yang diterima tidak sesuai dengan harapan, mereka rentan mengalami kekecewaan, keraguan terhadap diri sendiri, hingga gangguan kesehatan mental.

Bagi mereka yang memiliki self-esteem tinggi, jumlah likes dan komentar yang mereka dapat dari unggahan tidak mengganggu harga diri mereka. Mereka tau seberapa berharganya diri mereka sendiri sebagai individu, sehingga tidak membutuhkan validasi dari siapapun. Justru mereka mengunggah sesuatu karena mereka ingin membagikan cerita tentang apa yang mereka sedang lakukan tanpa memikirkan jumlah likes dan komentar yang mereka dapatkan. Mereka tetap menikmati euforia yang mereka dapatkan ketika unggahan mereka ramai dibicarakan dan tetap tenang meskipun unggahan mereka sepi. Kesehatan mental mereka pun akan cenderung lebih stabil karena mereka tidak mudah terpengaruh oleh respon yang mereka terima di media sosial. Mereka juga lebih mampu mengelola emosi, menerima kritik maupun penolakan, serta mempertahankan rasa percaya diri meskipun tidak memperoleh pengakuan dari orang lain.

Sedangkan pada mereka yang memiliki self-esteem rendah, mereka cenderung memiliki kesehatan mental yang tidak stabil. Kekecewaan, overthinking, stress, frustasi, hingga burnout akibat kelelahan mental yang terkumpul dari usaha tanpa henti mengejar pengakuan yang tidak lagi mereka dapatkan, membuat mereka terjebak dalam siklus yang tidak sehat, terus mengunggah konten demi memperoleh respon yang sama ramai seperti sebelumnya. Semakin besar harapan yang dibangun, semakin besar pula kekecewaan yang dirasakan ketika harapan tersebut tidak terpenuhi. Pada akhirnya, media sosial yang awalnya digunakan sebagai sarana berekspresi dapat berubah menjadi sumber tekanan psikologis yang menguras energi emosional dan mengancam kesehatan mental mereka.

Penggunaan media sosial sebagai sarana berekspresi merupakan hal yang wajar di era digital ini. Hanya saja, kebiasaan seseorang dalam menggunakan media sosial perlu untuk lebih diperhatikan. Kebiasaan seperti mengunggah suatu konten hanya untuk mendapatkan like dan komentar sebagai tingkat penilaian keberhasilan dan melakukan perbandingan diri sendiri dengan pencapaian orang lain di media sosial merupakan suatu hal yang salah. Tidak dapat dipungkiri jika mendapatkan banyak likes dan komentar merupakan sesuatu yang menyenangkan. Namun, ada baiknya kesenangan yang diterima hanya sebatas untuk kesenangan, bukan untuk mencari cari validasi yang membuat diri kita terlihat ‘baik’ di media sosial. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada validasi orang lain terhadap diri sendiri, yang mana dapat berdampak pada kurangnya rasa percaya diri dan rendah diri. Ketergantungan ini dapat dikurangi dengan mengembangkan penerimaan diri, menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, serta memahami bahwa semua orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Dengan ini, seseorang akan mampu menghargai dirinya tanpa harus bergantung pada pengakuan orang lain.

Selain itu, dukungan dari lingkungan sosial yang suportif juga memiliki peran dalam menjaga kesehatan mental. Lingkungan yang suportif akan membuat diri sendiri merasa lebih diterima dan dihargai. Apresiasi dari orang orang terdekat akan berdampak positif pada kesehatan mental seseorang, meningkatkan rasa percaya diri, dan berusaha memperkuat self-esteem dari dalam sehingga seseorang tidak lagi bergantung pada pengakuan yang sifatnya sementara dan tidak menentu seperti likes dan komentar di media sosial.

Solusi terbaik untuk mereka yang memiliki self-esteem rendah adalah konsultasi ke psikolog.

Referensi

Tjhia, E. A. I., Halimah, H., Noorhayati, N., Ramadani, R., & Putri, A. R. (2024). Motivasi dan Viral Marketing pada Aplikasi Tiktok terhadap Keputusan Pinjaman Online Igeneration di Kota Banjarmasin.

Mandas, A. L., & Silfiyah, K. (2022). Social self-esteem dan fear of missing out pada Generasi Z pengguna media sosial. Jurnal Sinestesia, 12(1), 19-27.

Shen, F., Liu, Y., & Brat, M. (2021). Attachment, Self-Esteem, and Psychological Distress: A Multiple-Mediator Model. Professional Counselor, 11(2), 129-142.

Bearn, J., & O'Brien, M. (2015). “Addicted to Euphoria”: the history, clinical presentation, and management of party drug misuse. International review of neurobiology, 120, 205-233.

Muslimin, K., & Yusuf, M. D. (2020). Pengaruh penggunaan Instagram terhadap perilaku narsisme di kalangan mahasiswa. An-Nida: Jurnal Komunikasi Islam, 12(2), 139-146.

Safitri, D. N., & Indra, F. (2026). THE PHENOMENON OF GENERATION Z SEEKING VALIDATION AND SELF-RECOGNITION ON SOCIAL MEDIA: A USES AND GRATIFICATIONS APPROACH. Journal Analytica Islamica, 15(2), 706-715.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|