Lahan Jadi Tantangan KAI Bangun Jalur Kereta Baru di Sumatra-Kalimanta

4 hours ago 3

Newswire

Newswire Jum'at, 21 Agustus 2026 19:17 WIB

Lahan Jadi Tantangan KAI Bangun Jalur Kereta Baru di Sumatra-Kalimanta

Aktivitas kereta api angkutan barang. dok/KAI Daop 6)

Harianjogja.com, JAKARTA— PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menghadapi persoalan pembebasan lahan dalam rencana pembangunan jalur kereta baru di sejumlah wilayah. Pengembangan jaringan kereta saat ini diprioritaskan di Sumatra, Kalimantan, dan Bali.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pembangunan jalur kereta baru tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis. Pembebasan lahan menjadi salah satu faktor penting yang harus diselesaikan sebelum proyek dapat berjalan.

“Pembangunan jalur kereta baru ini banyak faktor-faktornya ya, terutama juga faktor pembebasan lahannya,” ujarnya di kawasan Stasiun Manggarai, Jumat (21/8/2026).

Untuk Kalimantan, pengembangan jalur kereta masih berada dalam proses penyelesaian feasibility study atau studi kelayakan. Sementara jaringan kereta di Sumatra telah memasuki tahap detail engineering design (DED).

Bobby belum mengungkapkan proyek mana yang akan lebih dahulu diselesaikan. Menurutnya, tahapan pembangunan masih berjalan di masing-masing wilayah.

“Surprise nanti mana yang akan kami selesaikan yang paling duluan,” tuturnya.

Trase Trans Kalimantan Masih Dikaji

Rencana pembangunan jaringan kereta di Kalimantan juga masih berkaitan dengan penentuan trase. Pemerintah sebelumnya masih mengkaji jalur rel yang akan dikembangkan, termasuk kemungkinan koneksi Trans Kalimantan dengan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Penetapan trase menjadi bagian penting karena panjang lintasan dan jenis kereta yang digunakan akan menentukan kebutuhan investasi. Untuk Kalimantan, jaringan kereta diarahkan pada trase yang memberikan manfaat ekonomi bagi wilayah sekaligus layak secara komersial bagi investor.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah tengah membahas trase jalur kereta Trans Kalimantan bersama Kementerian PPN/Bappenas serta calon investor dari China dan Rusia untuk Kalimantan.

Pembahasan tersebut ditujukan untuk menentukan jalur yang menguntungkan secara ekonomis sekaligus mampu mendukung perekonomian wilayah di Kalimantan.

"Nanti kami akan duduk bersama dengan para investor. Trase-trase mana saja yang bisa kami kembangkan baiknya di Sumatra maupun di Kalimantan," katanya.

Adapun mengenai peluang jalur Trans Kalimantan menembus IKN, Dudy belum memberikan kepastian. Sebelumnya, rencana jalur rel di ibu kota baru tersebut memang telah mencuat.

"Nanti kami lihat," ujarnya.

Jalur Kereta Sumatra Fokus Angkutan Logistik

Berbeda dengan Kalimantan yang masih berada dalam tahap studi kelayakan, pengembangan jaringan kereta di Sumatra telah memasuki DED.

KAI akan terjun langsung menggarap rute yang direncanakan membentang dari Aceh hingga Lampung. Pengembangan dilakukan dengan melanjutkan jaringan dari lintasan yang sudah tersedia.

Fokus utama pengembangan jalur kereta di Sumatra tersebut adalah angkutan logistik. Dengan demikian, jaringan yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan konektivitas antardaerah, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pergerakan barang.

Bobby sebelumnya menyebut Sumatra, Kalimantan, dan Bali sebagai wilayah yang didahulukan KAI dalam pembangunan jalur kereta baru. Sementara itu, dia tidak menyebutkan rencana pembangunan jalur kereta untuk Sulawesi.

Bali Beralih dari MRT ke Trem Otonom

Sementara itu, pengembangan moda rel di Bali mengambil arah berbeda. Pemerintah Provinsi Bali memilih pembangunan trem otonom atau autonomous rail transit (ART) untuk menggantikan rencana MRT di kawasan yang padat wisatawan tersebut.

Pada rencana awal MRT Bali, proyek sempat dijadwalkan memasuki tahap groundbreaking pada September 2024. Pembangunan tersebut direncanakan melibatkan kontraktor PT Sarana Bali Dwipa Jaya.

Namun, ketiadaan investor dalam pembangunan MRT tersebut kemudian mendorong pemerintah setempat beralih ke moda trem.

Pengembangan jalur kereta baru di Sumatra, Kalimantan, dan Bali kini menghadapi tahapan serta tantangan yang berbeda. Di samping proses teknis seperti studi kelayakan dan DED, pembebasan lahan, kepastian trase, kebutuhan investasi, serta kesiapan investor menjadi faktor yang turut menentukan kelanjutan proyek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|