Kuat Suparjono (kiri) berfoto dengan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo usai menerima penghargaan satu tahun Hasto-Wawan di Taman Budaya Embung Giwangan, Senin (30/3 - 2026). / Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Pagi belum sepenuhnya terang di Depo Pringgokusuman, di Gedongtengen, Kota Jogja. Namun aktivitas sudah bergerak. Satu per satu gerobak datang, membawa muatan yang tak sekadar sampah, tetapi juga tantangan harian yang tak pernah benar-benar selesai. Di tengah ritme itu, Kuat Suparjono berdiri tenang, memastikan satu hal sederhana tetapi krusial: depo harus tetap kosong, kering, dan tanpa bau.
Bagi Kuat, depo bukan tempat penumpukan, melainkan titik transit yang harus selalu bersih. Prinsip itu yang ia pegang sejak dipercaya menjadi ketua Paguyuban Transporter, mengoordinasikan 97 penggerobak aktif yang setiap hari keluar-masuk depo.
Penghargaan Garda Depan Teladan Sampah yang ia terima dalam satu tahun kepemimpinan Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan pada Senin (30/3/2026) lalu, bukan sekadar seremoni. Di baliknya, ada disiplin panjang yang dibangun dari aturan sederhana: hanya sampah terpilah yang boleh masuk depo.
“Di situ kan saya memberikan SOP untuk para penggerobak, sampah yang dibawa ke depo itu harus terpilah,” kata Kuat, Jumat (3/4/2026).
Antrean, Lelah, dan Disiplin yang Tak Bisa Ditawar
Di hari-hari biasa, puluhan transporter datang silih berganti. Namun selepas libur, jumlahnya bisa melonjak hingga lebih dari 80 orang. Antrean panjang pun tak terhindarkan. Ketika armada truk terbatas, sebagian harus menunggu lebih lama—bahkan “menginap” dengan sampah yang masih berada di gerobak.
“Teman-teman yang enggak kebagian truk hari ini harus nginep. Nanti besok antre lagi dari tengah malam untuk ambil nomor,” ujarnya.
Untuk menjaga keadilan, Kuat menerapkan sistem antrean undian layaknya arisan. Tak ada privilese bagi yang datang lebih dulu. Semua harus tunduk pada nomor yang didapat. Baginya, ketertiban adalah fondasi agar sistem tetap berjalan.
Namun kerja di lapangan tak berhenti di antrean. Proses memilah sampah menjadi bagian paling menyita waktu. Sejak pukul 05.30 WIB, Kuat sudah berkutat dengan tumpukan sampah, dan baru selesai mendekati pukul 12.30 WIB.
“Saya dari setengah 6 pagi milah itu baru selesai setengah 1 siang. Ruginya di waktu, tapi harus dilakukan,” katanya.
Dari Hulu yang Belum Tertib hingga Risiko Kesehatan
Ironisnya, pekerjaan memilah yang berat itu justru banyak dipicu dari hulu. Menurutnya, masih banyak warga yang belum terbiasa memilah sampah dari rumah.
“Warga banyak yang merasa ‘aku wis mbayar’, jadi enggak mau pilah. Mau enggak mau kita yang pilah lagi,” ujarnya.
Situasi ini tak jarang memunculkan gesekan di lapangan. Para transporter harus berada di garis depan, menjelaskan aturan sekaligus menanggung dampak dari kebiasaan yang belum berubah.
Meski begitu, Kuat tetap teguh. Ia melarang keras sampah dibuang ke depo sebelum truk datang. Baginya, depo harus tetap steril.
“Depo harus kosong, kering, nol sampah. Kalau truk belum datang, sampah tetap di gerobak,” katanya.
Disiplin itu mulai menunjukkan hasil. Ia menyebut hingga 95% transporter kini sudah melakukan pemilahan. Bau menyengat yang dulu sering dikeluhkan warga perlahan menghilang.
Namun di balik capaian tersebut, persoalan lain muncul: kesehatan para pekerja. Paparan sampah setiap hari membuat sejumlah transporter mengalami gangguan pernapasan hingga infeksi kulit.
“Beberapa teman sakit, ada yang sesak, keluar dahak. Saya sendiri sampai kena abses,” ujarnya.
Kuat berharap ada perhatian lebih serius dari pemerintah, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin hingga dukungan perlengkapan kerja dan armada yang memadai. Baginya, pengelolaan sampah tak boleh berhenti di program, tetapi harus benar-benar hadir di lapangan.
“Programnya baik, tapi pelaksanaannya di masyarakat belum maksimal. Kuncinya tetap di masyarakat, mau pilah atau tidak,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menegaskan peran para transporter dan pemilah sampah sebagai penopang utama sistem pengelolaan sampah kota. Tanpa mereka, layanan bisa berhenti total.
“Kalau mereka nggak ada seperti penggerak pemilah sampah itu, semua bisa deadlock. Makanya lebih baik mereka yang kita kasih penghargaan, kalau kita kan memang sudah tugasnya,” ucapnya.
Ia menambahkan, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas kerja nyata yang selama ini kerap luput dari perhatian.
“Kami ingin mengapresiasi bahwa yang bergerak dan yang berbuat itu mereka. Kalau mereka nggak ada, kita semuanya nothing,” katanya.
Di tengah segala keterbatasan, Kuat tetap melanjutkan rutinitasnya. Bukan hanya mengangkut sampah, tetapi juga menjaga komitmen bahwa dari depo kecil di Pringgokusuman, kebersihan Jogja dimulai setiap pagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































