REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Batu saluran kemih masih menjadi salah satu masalah penyakit urologi yang paling sering dijumpai di masyarakat, dengan angka kejadian yang terus menunjukkan peningkatan di berbagai negara. Rasa sakit yang ditimbulkannya kerap kali datang tiba-tiba dengan intensitas luar biasa.
Namun, tak sekadar menghadirkan nyeri hebat yang mengganggu aktivitas harian, penyakit ini juga menyimpan risiko kekambuhan yang tergolong tinggi apabila penyebab dasarnya tidak ditangani secara menyeluruh dari akar masalahnya. Spesialis urologi RS Premier Bintaro, dr Teguh Risesa Djufri, Sp.U, FICS, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, mengatakan batu saluran kemih merupakan kondisi ketika terbentuk endapan mineral di ginjal maupun saluran kemih akibat gangguan metabolisme, kurangnya asupan cairan, pola makan tertentu, infeksi, hingga faktor genetik.
Penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan, terutama pada usia produktif 40–50 tahun. Risiko juga meningkat pada individu dengan obesitas, gaya hidup sedentari, serta mereka yang tinggal di daerah beriklim panas.
Ancaman dari penyakit ini pun sering kali diremehkan oleh sebagian orang yang mengira dampaknya sebatas rasa mules atau pegal biasa. Padahal, bahaya laten yang mengintai di balik keberadaan endapan tersebut jauh lebih kompleks bagi organ dalam penderita.
"Banyak masyarakat menganggap batu saluran kemih hanya menyebabkan nyeri. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, batu dapat menyebabkan sumbatan saluran kemih, infeksi berat, gangguan fungsi ginjal, bahkan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat sangat penting," ujarnya dalam media gathering bertajuk "Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih" yang diselenggarakan RS Premier Bintaro di Jakarta pada Rabu (22/7/2026).
Gejala batu saluran kemih yang paling khas adalah nyeri hebat pada pinggang yang datang tiba-tiba dan dapat menjalar ke perut bagian bawah, selangkangan, hingga alat kelamin. Intensitas nyerinya bahkan sering disamakan dengan nyeri persalinan. Selain itu, penderita dapat mengalami mual, muntah, darah dalam urine, nyeri saat berkemih, hingga demam apabila sudah terjadi infeksi. Tidak jarang pula batu ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan karena pada beberapa kasus tidak menimbulkan keluhan.
Salah satu tantangan terbesar pada batu saluran kemih adalah tingginya angka kekambuhan. Karena itu, setelah batu berhasil ditangani, pasien tetap perlu menjalani evaluasi penyebab terbentuknya batu serta melakukan perubahan gaya hidup.
"Pengobatan tidak berhenti setelah batu berhasil dikeluarkan. Kami juga melakukan evaluasi metabolik untuk mengetahui penyebab pembentukan batu sehingga kekambuhan dapat dicegah. Minum air putih yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam berlebih, serta menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah sederhana yang sangat berperan dalam mencegah batu terbentuk kembali," ujar dr Teguh.

1 week ago
39













































