Harianjogja.com, KULONPROGO— Kekeringan di Kabupaten Kulonprogo meluas dari sebelumnya tiga kapanewon menjadi lima kapanewon. Perluasan wilayah terdampak terjadi setelah warga di Kapanewon Pengasih dan Panjatan mulai mengajukan permohonan dropping air kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo.
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, mengatakan tiga kapanewon yang sebelumnya terdampak kekeringan adalah Kokap, Girimulyo, dan Samigaluh. Kini, distribusi air bersih juga menjangkau Pengasih dan Panjatan.
"Berdasarkan data terbaru sebaran droping air BPBD Kulonprogo tambah dua kapanewon yang artinya kondisi kekeringan meluas menjadi lima kapanewon," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).
Meski wilayah terdampak bertambah, Setiawan mengatakan kondisi kekeringan di Pengasih dan Panjatan belum terjadi secara masif. Volume air yang disalurkan BPBD di dua kapanewon tersebut juga masih relatif terbatas.
Pengasih dan Panjatan Mulai Terdampak
Berdasarkan data terbaru BPBD Kulonprogo, distribusi air di Kapanewon Panjatan telah mencapai 10.000 liter. Sementara di Kapanewon Pengasih, volume air yang disalurkan mencapai 15.000 liter.
Penyaluran di kedua kapanewon tersebut baru dilakukan di masing-masing satu kalurahan. Dengan demikian, perluasan dampak kekeringan belum berarti seluruh wilayah Pengasih dan Panjatan mengalami kondisi serupa.
Setiawan merinci jumlah warga yang terdampak di dua wilayah tersebut. Di Pengasih, kekeringan dialami 229 jiwa dari 74 KK, sedangkan di Panjatan berdampak kepada 102 jiwa dari 46 KK.
"Di Pengasih dampak kekeringan dialami 229 jiwa dari 74 KK sedangkan di Panjatan dialami 102 jiwa dari 46 KK," lanjut Setiawan.
Kekeringan di Kabupaten Kulonprogo telah berlangsung sejak akhir Juni 2026. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sumur warga tidak lagi memiliki pasokan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi geografis juga menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah wilayah Kulonprogo lebih rentan mengalami kekeringan. Wilayah dengan kontur perbukitan dan kondisi tanah yang kering menjadi lokasi yang selama ini lebih sering terdampak.
Girimulyo Jadi Wilayah Terparah
Di antara lima kapanewon yang saat ini mendapatkan distribusi air, Kapanewon Girimulyo menjadi wilayah dengan dampak kekeringan paling berat berdasarkan data BPBD Kulonprogo.
Hingga saat ini, BPBD Kulonprogo telah menyalurkan 140.000 liter air ke wilayah tersebut. Kekeringan di Girimulyo tercatat berdampak kepada 606 jiwa yang berasal dari 232 KK.
"Di Girimulyo sampai sekarang kami sudah melakukan droping air mencapai 140 ribu liter yang mana kekeringan dialami 606 jiwa dari 232 KK," ungkap Setiawan.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat. Sejumlah fasilitas umum juga mengalami kesulitan memperoleh air bersih, termasuk sekolah dasar (SD) dan masjid.
BPBD Kulonprogo telah melakukan dropping air bersih untuk fasilitas umum tersebut. Masing-masing SD dan masjid yang terdampak telah menerima distribusi sebanyak 5.000 liter air bersih.
Kondisi tersebut membuat penanganan kekeringan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air dalam jangka pendek. BPBD Kulonprogo bersama pihak terkait juga mulai mengupayakan solusi agar distribusi air tidak terus menjadi pilihan utama setiap musim kemarau.
Sumur Bor Jadi Opsi Penanganan Jangka Panjang
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dropping air, BPBD Kulonprogo saat ini mengajukan bantuan pembangunan sumur bor kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Setiawan mengatakan pengajuan tersebut merupakan bagian dari upaya penanganan kekeringan dalam jangka panjang. Namun, prosesnya masih berada pada tahap pengajuan sehingga belum dapat dipastikan apakah bantuan tersebut akan diterima.
"Ini baru mengajukan permohonan bantuan sumur bor ke BNPB dan CSR, untuk penanganan kekeringan jangka panjang," ungkapnya.
Kebutuhan anggaran untuk membangun sumur bor juga tidak kecil. Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kulonprogo, Sulung Ambang Sujagad, mengatakan sedikitnya diperlukan Rp300 juta untuk membangun satu titik sumur bor sebagai bagian dari penanganan kekeringan jangka panjang.
Namun, biaya tersebut dapat meningkat hingga Rp800 juta. Besaran anggaran bergantung pada sejumlah kondisi teknis di lokasi pembangunan.
Faktor yang diperhitungkan antara lain kondisi sumber air, medan, perbedaan ketinggian, jarak dari sumber air, luas area yang dilayani, serta kondisi tanah yang akan dilalui jaringan pipa.
Jumlah masyarakat yang akan mendapatkan layanan dan debit air yang direncanakan juga menjadi bagian dari perhitungan kebutuhan anggaran pembangunan sumur bor.
"Range harganya mulai dari Rp300 juta sampai Rp800 juta kalau membuat sumur plus jaringannya," ucap Sulung.
Anggaran Sumur Bor Masih Terbatas
Di tengah kebutuhan solusi jangka panjang tersebut, pengadaan sumur bor dan jaringan pendukungnya masih menghadapi keterbatasan anggaran.
Sulung mengungkapkan anggaran yang tersedia saat ini untuk pengadaan tersebut sangat minim. Anggaran yang ada baru dapat digunakan sebatas penambahan jaringan jalur perpipaan.
Kondisi itu membuat penanganan kekeringan di Kulonprogo saat ini masih berjalan melalui dua kebutuhan. Di satu sisi, BPBD tetap melakukan distribusi air kepada warga dan fasilitas umum yang membutuhkan, sementara di sisi lain pemerintah mulai mengupayakan pembangunan sumber air yang dapat digunakan untuk penanganan jangka panjang.
Perluasan distribusi air dari tiga menjadi lima kapanewon menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih selama musim kemarau masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kulonprogo. Berdasarkan data BPBD, wilayah terdampak saat ini mencakup Kapanewon Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Pengasih, dan Panjatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































