Iran Klaim Serang Basis Militer AS, Harga Minyak Dunia Terus Naik

3 hours ago 4

Iran Klaim Serang Basis Militer AS, Harga Minyak Dunia Terus Naik

Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati

Harianjogja.com, JAKARTA—Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu gejolak di pasar energi global. Memanasnya situasi di Timur Tengah yang kini melibatkan serangan ke sejumlah wilayah, termasuk Suriah dan Bahrain, mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 11% dalam sepekan terakhir dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu dampak yang paling dirasakan pasar internasional. Konflik yang terus meluas juga meningkatkan risiko terganggunya jalur distribusi energi strategis di Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama minyak dunia.

Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer AS di wilayah al-Tanf, Suriah, serta menargetkan pesawat militer AS yang berada di Pangkalan Udara Sakhir, Bahrain. Namun hingga saat ini, belum terdapat tanggapan resmi dari militer AS maupun pemerintah Suriah terkait klaim tersebut.

Sementara itu, Angkatan Pertahanan Bahrain menyatakan telah berhasil mencegat sejumlah serangan udara yang diluncurkan Iran. Selain Bahrain, Yordania dan Qatar juga mengonfirmasi telah mencegat rudal Iran yang melintas di wilayah udara masing-masing.

Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan udara terhadap Iran. Operasi tersebut dilaporkan menghantam puluhan target militer yang meliputi sistem pertahanan udara, infrastruktur logistik, hingga kapabilitas maritim Iran. CENTCOM juga menyebut lebih dari 50.000 personel militer AS masih bersiaga di kawasan Timur Tengah.

Media pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS yang terjadi semalam mengakibatkan delapan orang meninggal dunia dan 20 lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah Iran juga menuduh sejumlah infrastruktur sipil, seperti jembatan, stasiun kereta api, dan bandara menjadi sasaran serangan. Meski demikian, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Eskalasi terbaru ini terjadi ketika kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang dicapai pada bulan lalu mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Kesepakatan tersebut sebelumnya ditujukan untuk meredakan konflik sekaligus membuka kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran masih berjalan sesuai rencana. Dalam pidatonya pada Kamis malam waktu setempat, Trump mengklaim pemerintahannya tengah meraih kemajuan dalam konflik tersebut.

"Kami juga sedang meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasilnya," kata Trump.

Sebelumnya, Trump juga mengancam akan menyerang sejumlah infrastruktur strategis Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik apabila Teheran menolak kembali ke meja perundingan.

Peneliti senior German Marshall Fund (GMF), Ian Lesser, menilai terdapat risiko konflik antara AS dan Iran berkembang menjadi perang berkepanjangan apabila kedua negara gagal menemukan jalan diplomasi dalam waktu dekat.

"Ada risiko ke arah sana. Pada dasarnya, AS telah menjalani perang dingin dan sesekali perang terbuka dengan Iran selama puluhan tahun," ujarnya kepada CNBC.

Memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September tercatat naik 1,7% menjadi US$85,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat 2,2% menjadi US$80,63 per barel.

Sepanjang pekan ini, kedua kontrak minyak tersebut telah mencatatkan kenaikan lebih dari 11% dan berada di jalur menuju kinerja mingguan terbaik sejak akhir April. Sejumlah analis menilai risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar global.

Peningkatan harga minyak dunia juga berpotensi memberikan dampak terhadap biaya energi dan transportasi di berbagai negara apabila konflik terus berlangsung. Karena itu, perkembangan situasi di Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi stabilitas pasar energi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|