Seorang warga Iran berjalan di samping mural anti-AS dan Israel di sebuah jalan di Teheran, Iran, 8 Mei 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di tengah berlangsungnya negosiasi tidak langsung antara kedua negara. Di saat pembicaraan diplomatik masih berjalan, aksi saling serang militer dan perang pernyataan terus terjadi, memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di kawasan.
Militer AS mengklaim telah menyerang lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang disebut mencoba memasang ranjau di perairan selatan Iran. Media pemerintah Iran kemudian melaporkan pasukan negara itu membalas tembakan. Bahkan, disebutkan terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut.
Meski demikian, hingga kini belum ada laporan resmi mengenai runtuhnya gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak 8 April lalu.
Di tengah ketidakpastian itu, pasar keuangan di Teheran justru menunjukkan optimisme hati-hati. Nilai mata uang riyal menguat lebih dari lima persen dalam sepekan terakhir, meskipun masih berada di kisaran terendah historis terhadap dolar AS.
Indeks utama Bursa Efek Teheran juga kembali menguat dan menembus angka 4 juta poin pada Selasa pagi waktu setempat. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya pasar sempat terpuruk akibat gelombang protes nasional dan ancaman perang yang menewaskan ribuan orang pada awal tahun.
Namun, di balik penguatan pasar, ekonomi Iran tetap berada dalam tekanan berat. Selain dihantam salah urus domestik, Teheran juga menghadapi tekanan besar dari Washington, termasuk blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis Iran di selatan.

3 weeks ago
28















































