REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan harga bahan bakar di tengah ketidakpastian energi global mulai menggeser preferensi konsumen di Eropa Timur. Di Bosnia dan Herzegovina (BiH), kendaraan listrik dan hibrida kian dilirik, dengan merek-merek asal China tampil sebagai pemain yang semakin dominan.
Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan perubahan tren konsumsi, tetapi juga menandai pergeseran geopolitik industri otomotif global. China, yang selama ini unggul dalam rantai pasok baterai dan kendaraan listrik, kini memperluas pengaruhnya hingga ke pasar-pasar Eropa yang sebelumnya didominasi produsen Barat.
Di ibu kota Sarajevo, ruang-ruang pamer otomotif mulai dipenuhi model kendaraan listrik dari merek China seperti Geely dan Chery. Produk-produk tersebut menarik minat publik karena menawarkan kombinasi harga kompetitif, teknologi canggih, serta garansi yang lebih panjang.
Kondisi ini menjadi relevan di tengah tekanan ekonomi rumah tangga akibat mahalnya energi. Konsumen mencari alternatif yang lebih efisien secara biaya, sekaligus lebih ramah lingkungan.
“Saya sangat terkejut dengan kualitas, desain, dan stabilitas berkendara kendaraan listrik Tiongkok,” kata Zvezdana Stojakovic, pembawa acara Radio dan Televisi BiH, setelah mencoba sejumlah model EV asal China.
Ia menilai produsen otomotif China telah mengalami lompatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi teknologi maupun kenyamanan kendaraan.
Menurutnya, kendaraan listrik juga menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang lebih besar.
“Dalam jangka panjang, saya percaya kendaraan listrik akan menjadi standar,” ujarnya.
Pakar industri otomotif Dino Subasic mengatakan Bosnia dan Herzegovina mengikuti tren regional menuju elektrifikasi. Ia mencatat pangsa pasar merek China meningkat dari sekitar 3 persen tahun lalu menjadi sekitar 4 persen pada Maret 2026.
“Merek-merek Tiongkok termasuk pelopor dalam transisi ini. Mereka menawarkan solusi ramah lingkungan dengan produk yang semakin kompetitif,” kata Subasic.
Ia menambahkan, tingginya harga bahan bakar serta ketegangan geopolitik global turut memengaruhi preferensi konsumen. Dalam konteks tersebut, kendaraan hibrida menjadi solusi transisi yang realistis menuju penggunaan kendaraan listrik penuh.
Ekonom Igor Gavran menilai keunggulan kendaraan listrik China terletak pada teknologi baterai, efisiensi energi, serta tingkat digitalisasi yang semakin maju.
Menurutnya, produsen China termasuk yang paling awal mengembangkan dan mengkomersialkan kendaraan listrik dalam skala besar, sehingga mampu menghadirkan produk kompetitif dengan harga relatif terjangkau.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan bagaimana dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis dan baterai mulai memberikan dampak langsung terhadap pasar global.
sumber : Xinhua

2 hours ago
2
















































