Foto ilustrasi kamar hotel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Lonjakan wisatawan saat long weekend Paskah 2026 mengubah peta hunian hotel di DIY. Tak lagi terpusat di kawasan Malioboro, okupansi kini merata hingga ke wilayah pinggiran dengan tingkat hunian menembus 85%.
Pergerakan ini mulai terlihat sejak Kamis (2/4/2026) malam. Wakil Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Wahyu Wikan Trispratiwi, menyebut okupansi hotel berbintang awalnya masih di kisaran 50%, namun melonjak drastis pada Jumat malam.
“Okupansi pada Kamis malam masih sekitar 50%, namun pada Jumat malam langsung melonjak hingga 85%. Bahkan hotel di lokasi strategis seperti dekat pusat perbelanjaan dan kuliner bisa mencapai 100%,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Untuk Sabtu (4/4/2026), tingkat hunian diperkirakan tetap tinggi di kisaran 80%. Namun, angka tersebut diprediksi menurun menjadi sekitar 60% hingga 70% menjelang akhir periode libur panjang.
Fenomena menarik lainnya adalah pergeseran preferensi lokasi menginap. Wisatawan kini tidak lagi menjadikan Malioboro sebagai satu-satunya pusat tujuan, melainkan mulai menyebar ke area alternatif yang dinilai lebih nyaman.
Sejumlah kawasan seperti Palagan di Sleman, serta koridor Jalan Magelang dan Jalan Solo, mencatat tingkat okupansi yang tidak jauh berbeda dengan hotel di pusat Kota Jogja.
Menurut Wikan, perubahan ini dipengaruhi kemudahan akses informasi, terutama melalui media sosial. Wisatawan kini lebih leluasa menentukan lokasi menginap sesuai kebutuhan tanpa harus bergantung pada kawasan pusat kota.
“Banyak tamu yang menghindari kepadatan di Malioboro dan memilih lokasi alternatif yang tetap strategis,” jelasnya.
Selain lokasi, pola pemesanan hotel juga berubah. Wisatawan domestik cenderung melakukan reservasi secara mendadak atau last minute, berbeda dengan tren sebelumnya yang dilakukan jauh hari.
Kemudahan akses transportasi darat menjadi faktor utama. Wisatawan dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jakarta dapat merencanakan perjalanan dalam waktu singkat.
“Lonjakan okupansi sering kali baru terlihat pada H-1 karena wisatawan bisa berangkat secara fleksibel,” katanya.
Menghadapi rangkaian libur nasional pada Mei mendatang, PHRI DIY berharap arus kunjungan bisa lebih merata. Penyebaran wisatawan dinilai penting untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata dan menghindari lonjakan yang hanya terpusat pada waktu tertentu.
“Lebih baik kunjungan tersebar sepanjang bulan daripada menumpuk di satu hari saja, lalu sepi di hari berikutnya,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































