HIPMI Syariah DIY Petakan Tren Gen Z untuk Ekonomi Syariah

4 hours ago 6

HIPMI Syariah DIY Petakan Tren Gen Z untuk Ekonomi Syariah

HIPMI Syariah DIY merilis riset Gen Z dan milenial untuk mendukung pengembangan ekonomi syariah DIY yang lebih tepat sasaran. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—HIPMI Syariah DIY melakukan riset khusus untuk memetakan perilaku Gen Z, milenial, dan generasi Alfa dalam mengakses serta menggunakan produk ekonomi syariah. Hasil riset ini disiapkan sebagai bahan rekomendasi bagi pemangku kebijakan agar pengembangan ekonomi syariah DIY lebih tepat sasaran dan sesuai karakter generasi muda.

Riset yang digagas HIPMI Syariah DIY tersebut menelusuri berbagai aspek aktivitas ekonomi Islam di kalangan anak muda, mulai dari penggunaan layanan perbankan syariah, preferensi produk fesyen muslim, hingga figur publik atau influencer yang menjadi rujukan mereka dalam mengambil keputusan konsumsi.

Ketua HIPMI Syariah DIY, Fajarudin Achmad Muharom, mengatakan penelitian tersebut sengaja difokuskan pada generasi muda karena kelompok ini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi syariah pada masa mendatang.

"Kami sudah melakukan riset terlebih dahulu yang segmennya memang anak muda. Ketika mereka melakukan aktivitas berkaitan dengan ekonomi Islam, kecenderungannya seperti apa? Itu yang dibaca dari riset ini. Siapa influencer yang mereka ikuti dan jadikan rujukan, serta bank mana yang mereka gunakan dan alasannya apa," ujar Fajarudin dalam Diskusi Publik dan Rilis Survei Youth Sharia Report 2026, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, hasil riset Gen Z ekonomi syariah tersebut nantinya akan disampaikan kepada berbagai pemangku kepentingan, termasuk Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) DIY dan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Data tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menyusun strategi edukasi dan kampanye ekonomi syariah yang lebih efektif.

Fajarudin menilai pendekatan komunikasi kepada generasi muda perlu disesuaikan dengan pola konsumsi informasi mereka yang saat ini lebih banyak mengandalkan media digital dan influencer dibandingkan sumber informasi konvensional.

Jadi Acuan Pengembangan Produk dan Strategi Edukasi

Selain mendukung penyusunan kebijakan, hasil penelitian tersebut juga dinilai penting bagi pelaku usaha, khususnya pemilik brand lokal dan industri kreatif yang menyasar pasar anak muda.

Melalui riset ini, pelaku usaha dapat memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen muda, termasuk dalam memilih produk fesyen berbasis syariah.

"Misalnya dalam memilih produk fesyen, itu karena modelnya atau karena pengaruh influencer yang punya pandangan syariah. Secara ekonomi, ini bisa menjadi dasar bagi teman-teman pemilik brand untuk mengembangkan produk," lanjutnya.

Di sisi lain, Fajarudin mengungkapkan masih terdapat tantangan dalam meningkatkan literasi keuangan syariah di kalangan generasi muda.

"Mereka kok masih belum familiar dengan istilah-istilah syariah, masih bingung misalnya sukuk itu apa, terus adakah saham syariah. Nah, ketika pemerintah membuat kebijakan atau edukasi, hal itu bisa menjadi lebih tepat lagi."

Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai instrumen keuangan syariah, seperti sukuk dan saham syariah, masih perlu diperkuat agar semakin mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

DIY Dinilai Punya Modal Besar Kembangkan Ekonomi Syariah

Fajarudin optimistis prospek ekonomi syariah DIY akan terus berkembang. Menurutnya, tren pertumbuhan ekonomi syariah saat ini tidak hanya terjadi di negara-negara mayoritas muslim, tetapi juga mulai berkembang di sejumlah negara nonmuslim, termasuk Inggris.

Khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, perkembangan ekonomi syariah ditopang oleh ekosistem pendidikan, pondok pesantren, dan organisasi keagamaan yang kuat.

HIPMI Syariah DIY sendiri beranggotakan pengusaha muda berusia di bawah 40 tahun yang berasal dari beragam latar belakang organisasi dan komunitas, mulai dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Fatayat, hingga komunitas hijrah dan Salafi. Keberagaman tersebut dinilai turut memengaruhi pola konsumsi dan perkembangan pasar produk syariah di Yogyakarta.

Selain itu DIY memiliki keunggulan karena menjadi pusat Muhammadiyah, serta di daerah-daerah juga sangat kuat basis Nahdlatul Ulama serta pesantren-pesantren.

"Belum lagi organisasi non-afiliasi seperti komunitas hijrah dan lainnya, itu tumbuh sangat kuat dan memengaruhi perilaku konsumen di Jogja. Setiap kali ada event syariah seperti Jogja Festival, audiensnya selalu besar," pungkasnya.

Besarnya antusiasme masyarakat terhadap berbagai kegiatan ekonomi syariah menjadi salah satu indikator bahwa potensi pengembangan ekonomi syariah DIY masih terbuka luas. Karena itu, hasil riset yang dilakukan HIPMI Syariah DIY diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam merancang program yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|