James Riady Pastikan Mal Lippo Tak Pasang Pagar, Ini Alasannya

4 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA—Chief Executive Officer (CEO) Lippo Group James Riady memastikan seluruh pusat perbelanjaan milik Lippo Group tidak akan memasang pagar tambahan di tengah mencuatnya isu sejumlah mal memperketat sistem pengamanan. Menurutnya, kebijakan perusahaan justru mengarah pada pembukaan akses yang lebih luas bagi masyarakat.

"Pasti tidak. Yang terjadi 10 tahun ini, pagar di semua mal-mal Lippo kita bongkar, kita turunkan," kata James usai menghadiri agenda Presidential Briefing Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Lippo Pilih Membuka Akses

James mengakui sebagian pelaku usaha memilih bersikap lebih hati-hati menghadapi dinamika ekonomi global. Namun, menurutnya, kondisi tersebut merupakan respons yang wajar dan tidak mencerminkan prospek ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

"Dalam satu konteks dinamika dunia, tentu tidak semua pengusaha memiliki keyakinan yang sama. Dia melihat gejolak di dunia, dia merasa khawatir. Itu lumrah saja," ujarnya.

Meski demikian, James menilai Indonesia justru semakin menarik perhatian investor internasional.

"Secara umum kita melihat dunia sedang melirik Indonesia," katanya.

Nilai Visi Presiden Perkuat Optimisme

James mengatakan optimisme tersebut didukung arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai memiliki visi jelas dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa depan.

"Kami mendengar paparan dari Presiden. Ini seorang Presiden yang memiliki visi yang jelas, visi untuk pertahanan ekonomi bangsa di tengah tantangan yang ada saat ini, tetapi juga punya visi yang ofensif melihat peluang bagaimana memosisikan Indonesia di masa depan," ujarnya.

Menurutnya, sejumlah program pemerintah seperti swasembada pangan, hilirisasi industri, ketahanan energi, pembangunan perumahan rakyat, hingga pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi fondasi penting penguatan ekonomi nasional.

"Kita juga melihat bagaimana Danantara dibentuk untuk menjadi ujung tombak dalam konsep beliau, yaitu Indonesia Incorporated," katanya.

Teknologi dan AI Jadi Peluang Baru

James menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan teknologi baru, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan robotika.

Ia menyebut banyak perusahaan teknologi global menunjukkan minat untuk berinvestasi, terutama di kawasan Batam hingga koridor Jakarta-Karawang yang dinilai memiliki pasokan energi memadai serta konektivitas serat optik ke jaringan global.

"Perusahaan-perusahaan teknologi sangat positif terhadap Indonesia. Rata-rata mereka ingin masuk ke Indonesia, khususnya di Batam dan jalur Jakarta-Karawang karena memiliki kecukupan energi dan koneksi serat optik ke dunia," ujarnya.

James juga menilai kebijakan luar negeri Indonesia turut memperkuat daya tarik investasi teknologi.

"Karena hubungan luar negeri bebas aktif Indonesia yang berhasil, Amerika mengizinkan Indonesia membeli GPU chip terkemuka di dunia yang banyak negara tidak bisa akses, tetapi Indonesia bisa," katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar AI, tetapi juga basis produksi teknologi untuk kawasan Asia Tenggara dan negara-negara Global South.

Permintaan Ruang Mal Masih Tinggi

Di sektor ritel, James mengungkapkan ekspansi pusat perbelanjaan masih terus berlangsung. Bahkan, permintaan ruang usaha di mal milik Lippo Group disebut masih tinggi.

"Kalau kita lihat mal-mal di seluruh Indonesia, kekurangan tempat untuk mereka sewa. Jadi secara keseluruhan sekarang sedang ekspansif," ujarnya.

Meski begitu, ia mengakui masih ada sebagian kecil pelaku usaha yang memilih lebih berhati-hati akibat ketidakpastian ekonomi global.

"Tapi ada saja segelintir kecil yang mungkin dengan situasi global yang bergejolak itu khawatir. Tapi mereka yang akan ketinggalan, mereka yang akan kerugian. Kami sendiri sangat yakin, tidak ada keraguan terhadap Indonesia," katanya.

Tantangan Datang dari Perubahan Industri

James menilai tantangan utama dunia usaha saat ini bukan berasal dari faktor keamanan dalam negeri, melainkan dampak Revolusi Industri Keempat yang dipicu perkembangan AI dan robotika.

"Dunia ini menghadapi tantangan dan gejolak luar biasa karena Revolusi Industri Keempat, khususnya AI dan robotika, yang membuat industri padat karya semakin berkurang," ujarnya.

Menurutnya, perubahan tersebut menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia menyebut Presiden Prabowo memahami pentingnya pelatihan ulang tenaga kerja agar siap memasuki industri baru.

"Pak Presiden sangat sadar bahwa ada puluhan juta pekerja kita yang harus dilatih ulang dan dididik untuk memasuki industri yang baru," katanya.

James menambahkan kehati-hatian tetap diperlukan dalam mengelola perusahaan di tengah ketidakpastian global, terutama terkait penguatan struktur keuangan.

"Kehati-hatian pengusaha itu bisa dimengerti. Memang ini zamannya akan lebih banyak gejolak, berarti struktur keuangan setiap perusahaan juga memang harus ditata lebih baik daripada dulu," tandas James.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|