Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih dalam rilis bulanan di Kantor BPS DIY, Rabu (1/4 - 2026). Anisatul Umah/ Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan harga pangan dan bahan bakar mewarnai inflasi di DIY pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan mencapai 0,45% (month-to-month/mtm), lebih rendah dibanding Februari 2026 yang sempat menyentuh 0,68%.
Momentum Lebaran ikut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas utama. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi DIY tercatat 4,08%, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) berada di angka 0,97%.
Pelaksana Tugas Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan dengan kenaikan 1,05% dan andil 0,29%.
Selain itu, kelompok transportasi menyumbang inflasi 0,46% dengan andil 0,06%, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,72% dengan andil 0,05%. Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,02%.
“Kelompok transportasi memberikan sumbangan inflasi terbesar kedua utamanya karena kenaikan harga bensin dan tarif angkutan antarkota,” ujar Endang di kantor BPS DIY, Rabu (1/4/2026).
Ia menyebutkan, kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi pemicu utama di sektor transportasi. Sementara itu, harga daging ayam ras naik seiring lonjakan permintaan menjelang Ramadan dan Lebaran.
BPS DIY juga mencatat lima komoditas utama penyumbang inflasi bulanan, yakni bensin, daging ayam ras, dan emas perhiasan dengan andil masing-masing 0,05%, diikuti bayam 0,03% dan tomat 0,02%.
Di sisi lain, sejumlah komoditas menahan laju inflasi. Angkutan udara dan wortel tercatat sebagai penyumbang deflasi terbesar masing-masing sebesar -0,02%, disusul bawang putih, pisang, dan cabai hijau dengan kontribusi -0,01%.
Endang menjelaskan penurunan tarif angkutan udara dipengaruhi kebijakan diskon tiket domestik kelas ekonomi sekitar 17%–18% pada pertengahan Maret. Sementara kenaikan harga emas perhiasan dipicu tren harga global.
“Maret ini adalah kondisi Lebaran biasanya muncul telur ayam ras, kali ini sebagai andil inflasi telur ayam ras sudah tersedia dengan baik di provinsi DIY,” jelasnya.
Secara tahunan, inflasi 4,08% yoy turut dipengaruhi efek basis rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik pada Februari dan Maret 2025. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 9,49% dan andil 1,50%.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga melonjak signifikan dengan inflasi 21,19% dan andil 1,39%, diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,76% dengan andil 0,79%.
Komoditas utama penyumbang inflasi tahunan meliputi tarif listrik (andil 1,42%), emas perhiasan (1,34%), beras (0,14%), daging ayam ras (0,13%), dan buncis (0,08%). Sementara itu, komoditas seperti bawang putih, bensin, cabai merah, wortel, dan kelapa menjadi penahan inflasi.
Secara nasional, BPS mencatat inflasi bulanan sebesar 0,41% mtm dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,57 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebutkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar inflasi nasional dengan kenaikan 1,07% dan andil 0,32%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































