Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi Tinggi di Kota Jogja

3 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA—Inflasi Kota Jogja pada Februari 2026 menembus 5,19 persen secara tahunan (year on year/y-on-y), dipicu lonjakan harga cabai rawit yang mendominasi pergerakan indeks harga konsumen.

Kenaikan harga pangan ini diperkirakan masih membayangi perekonomian daerah seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan. Secara bulanan (month to month/m-t-m), inflasi tercatat sebesar 0,72 persen berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja.

Data BPS Kota Jogja menunjukkan tekanan inflasi kali ini berbeda dibanding tahun lalu. Pada Februari 2026, Ramadan berlangsung hampir satu bulan penuh, berbeda dengan 2025 ketika puasa baru dimulai di akhir bulan. Durasi Ramadan yang lebih panjang berdampak langsung pada pola belanja masyarakat dan memperbesar volatilitas harga komoditas pangan.

Kepala BPS Kota Jogja, Joko Prayitno, menjelaskan bahwa lonjakan harga cabai rawit erat kaitannya dengan perubahan pola konsumsi warga. Permintaan bahan makanan untuk kebutuhan berbuka dan sahur meningkat signifikan, sehingga mendorong kenaikan harga di pasar.

“Masuk Ramadan artinya pola konsumsi berubah. Permintaan bahan makanan untuk berbuka dan sahur meningkat, itu yang bisa mendorong kenaikan harga,” jelas Joko saat memberikan keterangan resmi di Kantor BPS Kota Jogja, Senin (2/3/2026). Menurutnya, tekanan inflasi lebih dipengaruhi faktor tarikan permintaan (demand) daripada gangguan pasokan (supply), karena aktivitas belanja masyarakat meningkat tajam selama bulan puasa.

Memasuki Maret, inflasi Kota Jogja diproyeksikan masih terpengaruh momentum Ramadan dan persiapan Idulfitri. Jika merujuk data 2025, inflasi Maret saat itu tercatat 1,29 persen dan naik menjadi 1,52 persen pada April, bertepatan dengan puncak Lebaran. Meski demikian, perhitungan inflasi sangat bergantung pada perubahan harga terbaru setiap bulan.

Jika harga sudah berada di level tinggi namun tidak mengalami kenaikan tambahan, maka kontribusinya terhadap inflasi berikutnya tidak akan tercatat sebagai penambah angka secara statistik.

Tak hanya cabai rawit dan bahan pangan, komoditas perhiasan emas juga mulai menyumbang inflasi Kota Jogja menjelang Idulfitri. Tren pembelian emas untuk kebutuhan Lebaran maupun investasi musiman ikut mendorong kenaikan indeks harga pada Februari.

Pergerakan harga pangan dan emas ini diperkirakan tetap menjadi variabel utama pembentuk inflasi Kota Jogja pada Maret, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dalam menyambut hari raya yang identik dengan lonjakan konsumsi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|