14 Kasus Kebakaran di Jogja Awal 2026, 70 Persen Dipicu Korsleting

2 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja memperingatkan warga untuk lebih teliti memeriksa instalasi listrik di rumah. Pasalnya, sepanjang Januari hingga Maret 2026, tercatat sudah ada 14 insiden kebakaran yang melanda wilayah ini dengan penyebab utama masalah kelistrikan.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen dari total kejadian tersebut dipicu oleh hubungan arus pendek atau korsleting, serta faktor kelalaian manusia dalam mengoperasikan perangkat elektronik. Meski secara statistik angka ini masih berada di bawah capaian periode yang sama tahun lalu, kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci utama.

Kepala Damkarmat Kota Jogja, Taokhid, menegaskan bahwa fenomena human error masih menjadi momok menakutkan di balik rentetan peristiwa kebakaran. Penggunaan perangkat yang terus-menerus tanpa pengawasan menjadi pemicu panas berlebih yang berujung fatal.

“Rata-rata karena korsleting listrik dan kelalaian, seperti charger tidak dilepas atau perangkat elektronik rusak yang memicu panas berlebih hingga terbakar,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Selain korsleting, sejumlah kasus juga dipicu gangguan trafo listrik. Kebakaran yang terjadi sebagian besar menimpa rumah warga dan tidak menimbulkan korban jiwa, namun menyebabkan kerugian materiil.

Secara tren, jumlah kejadian ini masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rata-rata 4–5 kasus per bulan.

“Jumlahnya masih di bawah tahun lalu, semoga tidak ada peningkatan signifikan,” kata Taokhid.

Dari sisi penanganan, waktu tanggap petugas rata-rata mencapai 10,5 menit, sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Untuk mencegah kebakaran, Damkarmat mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam penggunaan listrik di rumah. Langkah sederhana seperti melepas colokan yang tidak digunakan, menghindari penumpukan sambungan listrik, dan rutin mengecek instalasi menjadi kunci pencegahan.

Terkait kesiapsiagaan lingkungan, alat pemadam api ringan (APAR) saat ini sudah tersedia di tingkat RW, namun di tingkat RT baru sekitar 12%. Kondisi ini dinilai masih perlu ditingkatkan.

Damkarmat mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk berperan aktif, termasuk melalui program tanggung jawab sosial (CSR) dengan penyediaan APAR di lingkungan permukiman.

“Kami harap masyarakat bisa lebih mandiri dalam pencegahan awal, sehingga risiko kebakaran bisa ditekan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|