Fitur Baru App Store Apple Picu Kekhawatiran Privasi Pengguna

6 hours ago 7

Jumali

Jumali Rabu, 24 Juni 2026 12:27 WIB

Fitur Baru App Store Apple Picu Kekhawatiran Privasi Pengguna

Logo Apple - ist/apple inc

Harianjogja.com, JOGJA—Apple kembali menjadi sorotan setelah meluncurkan fitur baru di App Store bernama Personalized Collections atau Koleksi yang Dipersonalisasi. Fitur yang diperkenalkan dalam ajang WWDC 2026 tersebut dirancang untuk menyajikan rekomendasi aplikasi yang lebih relevan berdasarkan minat, aktivitas, dan riwayat penggunaan masing-masing pengguna.

Meski diklaim dapat meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus membantu pengembang menjangkau audiens yang lebih tepat, fitur ini memicu kekhawatiran dari kalangan peneliti keamanan siber terkait praktik pengumpulan data yang mendasarinya.

Melalui Personalized Collections, rekomendasi aplikasi akan muncul pada berbagai bagian App Store, termasuk tab Aplikasi, Game, dan Pencarian. Sistem akan terus menyesuaikan rekomendasi berdasarkan pola penggunaan dan riwayat unduhan pengguna.

Apple menyebut pendekatan tersebut sebagai upaya untuk mempermudah pengguna menemukan aplikasi yang sesuai kebutuhan mereka. Di sisi lain, pengembang aplikasi juga memperoleh peluang lebih besar untuk menjangkau calon pengguna yang memiliki minat relevan terhadap produk yang mereka tawarkan.

Namun, peluncuran fitur tersebut memunculkan kritik dari kelompok pemerhati privasi digital. Peneliti keamanan dari Mysk menuding App Store mengumpulkan data analitik yang sangat rinci terkait aktivitas pengguna saat menggunakan platform tersebut.

Dalam unggahan di media sosial X, Mysk mengklaim Apple merekam hampir seluruh interaksi pengguna di App Store. Menurut mereka, data yang dikumpulkan tidak hanya mencakup hasil pencarian, tetapi juga pola interaksi pengguna saat menjelajahi aplikasi.

"Apple kini menerapkan analitik ekstensif yang dapat diidentifikasi yang mereka kumpulkan di App Store. Mereka merekam setiap ketukan dan tidak ada cara untuk mematikannya. Mereka bahkan dapat menghitung kecepatan mengetik Anda," tulis Mysk dikutip MacRumors.

Untuk mendukung klaim tersebut, Mysk membagikan hasil pengujian yang menunjukkan data analitik dikirim ke server Apple saat pengguna melakukan pencarian di App Store. Dalam salah satu eksperimen, mereka menempelkan teks sepanjang 1.000 karakter ke kolom pencarian dan menemukan bahwa seluruh isi teks tersebut disebut telah direkam serta dikirim sebelum proses pencarian dijalankan.

Peneliti juga menyoroti terbatasnya pilihan pengguna iPhone dalam mengakses toko aplikasi resmi. Berbeda dengan layanan musik atau platform digital lain yang memiliki banyak alternatif, pengguna iPhone pada umumnya hanya dapat mengunduh aplikasi melalui App Store.

Meski demikian, perdebatan mengenai praktik tersebut masih berlangsung. Sebagian pihak berpendapat bahwa pengumpulan data diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan dan menghasilkan rekomendasi yang lebih akurat. Sistem personalisasi modern umumnya memang bergantung pada analisis perilaku pengguna agar dapat memahami preferensi secara lebih tepat.

Di sisi lain, para pemerhati privasi menilai pengguna seharusnya diberikan kontrol lebih besar atas data mereka. Salah satu usulan yang mengemuka adalah menjadikan fitur rekomendasi yang dipersonalisasi sebagai opsi sukarela (opt-in), sehingga pengguna dapat memilih apakah aktivitas mereka boleh digunakan untuk membangun profil rekomendasi.

Mysk juga menyebut sebagian data analitik tersebut termasuk dalam kategori data pribadi yang dapat diakses pengguna melalui portal privasi Apple. Dengan demikian, pengguna memiliki kesempatan untuk melihat informasi apa saja yang telah dikumpulkan dari aktivitas mereka di App Store.

Kontroversi ini kembali menghidupkan perdebatan lama di industri teknologi mengenai keseimbangan antara personalisasi layanan dan perlindungan privasi. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan data pribadi, tuntutan terhadap transparansi dan kendali pengguna diperkirakan akan semakin besar bagi perusahaan teknologi global seperti Apple.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|