UAJY Luncurkan BESTARI SAINTEK Living Lab Sungai Jogja

3 hours ago 3

UAJY Luncurkan BESTARI SAINTEK Living Lab Sungai Jogja

Dekan Fakultas Teknobiologi UAJY, Ines Septi Arsiningtyas (kedua dari kanan), Ketua Tim Riset sekaligus dosen Fakultas Teknobiologi UAJY, Monika Ruwaimana (pertama dari kanan), Kepala DLH Kota Jogja, Rajwan Taufiq (ketiga dari kanan) dan Staff Ahli Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Jogja, Wirawan Hario Yudho (pertama dari kiri) dalam peluncuran program BESTARI SAINTEK Living Lab Sungai Jogja di kawasan Taman Gajah Wong, Muja-Muju, Kota Jogja, Rabu (24/6/2026). (Stefani Yulindriani)

UAJY Luncurkan BESTARI SAINTEK Living Lab Sungai Jogja, Perkuat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan

JOGJA–Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) meluncurkan program BESTARI SAINTEK Living Lab Sungai Jogja di kawasan Taman Gajah Wong, Muja-Muju, Kota Jogja, Rabu (24/6/2026). Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan LPDP ini bertujuan mengintegrasikan riset ilmiah dengan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kualitas lingkungan sungai dan mengatasi persoalan sampah.

Dekan Fakultas Teknobiologi UAJY, Ines Septi Arsiningtyas, mengatakan program tersebut merupakan wujud tanggung jawab perguruan tinggi dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, media, dan komunitas.

“Kolaborasi sangat dibutuhkan agar tujuan baik ini dapat tercapai. Kami ingin hasil riset tidak hanya berhenti di kampus, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan program Living Lab Sungai Jogja menjadi salah satu dari sekitar 120 proposal yang lolos pendanaan nasional dari ribuan proposal yang diajukan. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya program dalam menjawab berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

Ketua Tim Riset sekaligus dosen Fakultas Teknobiologi UAJY, Monika Ruwaimana, menjelaskan penelitian yang dilakukan menggabungkan pendekatan biologi dan sosial masyarakat. Tim peneliti akan mengkaji kualitas air sungai, dampaknya terhadap organisme perairan, dan keamanan ikan yang dikonsumsi masyarakat.

“Kami akan meneliti apakah ikan di sungai tercemar logam berat atau mikroplastik. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup [DLH Kota Jogja] untuk melihat kondisi kualitas air dan dampaknya terhadap ekosistem sungai,” katanya.

Dia menuturkan pengambilan data lapangan rencananya akan mulai pada Juli 2026. Selain itu, pihaknya juga menggagas pengolahan sampah organik berbasis masyarakat dengan vermikomposting menggunakan cacing dan pemanfaatan biowash berbasis bakteri asam laktat untuk mempercepat proses pengolahan sampah organik. 

Menurut Monika, hasil uji coba pengolahan sampah yang dilakukan bank sampah di Muja-Muju telah menunjukkan metode tersebut mampu mempercepat proses pengomposan sekaligus mengurangi bau.

“Sekitar 60% sampah rumah tangga sebenarnya merupakan sampah organik. Jika dapat dikelola sendiri menjadi kompos, beban tempat pembuangan akhir akan berkurang sangat signifikan,” jelasnya.

Sementara Dosen Ilmu Komunikasi UAJY sekaligus tim riset, Ninik Sri Rejeki, menuturkan program ini menggunakan pendekatan komunikasi pembangunan berkelanjutan agar hasil penelitian dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat.

Menurutnya, Living Lab Sungai Jogja mengusung model kolaborasi quadruple helix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan warga setempat.

“Kami ingin temuan-temuan ilmiah tidak berhenti di menara gading, tetapi benar-benar dikomunikasikan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota jogja, Wirawan Hario Yudho, mengapresiasi inisiatif UAJY yang dinilai mampu membumikan gagasan akademik menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Ia menyoroti persoalan sampah plastik yang terus meningkat dan mendorong adanya kajian lebih lanjut terkait tanggung jawab produsen terhadap limbah kemasan yang beredar di masyarakat.

“Kampus harus berada di depan dalam menyuarakan solusi lingkungan. Ide-ide yang lahir dari kampus tidak boleh hanya melayang di udara, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” katanya.

Sementara Bendahara Forum Bank Sampah (FBS) Muja-Muju, Yanti Mugiyono, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru melalui pendampingan UAJY, terutama terkait metode pengolahan sampah organik menggunakan cacing dan biokatalis.

“Kalau menggunakan cacing ternyata lebih mudah dan lebih cepat. Program ini menambah wawasan kami dalam mengelola sampah organik di lingkungan,” katanya.

Saat ini, Kelurahan Muja-Muju memiliki 21 bank sampah yang tersebar di setiap RW. Lebih dari 1.000 lubang olah sampah organik (losida) telah diterapkan di wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke depo dan TPA.

Sementara Koordinator Pokja Bidang Kewirausahaan Kreatif Lingkungan Hidup Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Dadang Kusbiantoro, menilai Living Lab Sungai Jogja berpotensi menjadi model pembelajaran nasional.

Menurutnya, sungai perlu dilihat tidak hanya dari fungsi ekologis, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi. Program ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai inovasi, termasuk peluang green jobs berbasis lingkungan yang dapat dikembangkan masyarakat.

“Kami berharap program ini menjadi prototipe yang dapat direplikasi di daerah lain dan memberikan rekomendasi bagi kebijakan nasional terkait pengelolaan sungai dan lingkungan hidup,” ujarnya. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|