Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. / Freepik
Harianjogja.com, BANGKOK—Dugaan keterlibatan negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia dalam operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran mulai mencuat ke publik. Sumber militer dan politik di kawasan tersebut menyebut aktivitas dukungan memang terjadi, meski secara resmi dibantah oleh pemerintah terkait.
Informasi ini diungkap pada Jumat (3/4/2026), saat dinamika konflik di Timur Tengah terus memanas. Sumber tersebut menegaskan bahwa sejumlah negara di kawasan disebut ikut berperan dalam aspek operasional, terutama dalam dukungan logistik dan militer.
Menurut dia, keberadaan Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain menjadi salah satu bukti keterlibatan langsung dalam operasi serangan terhadap Iran.
Selain itu, fasilitas militer di Kuwait disebut dimanfaatkan oleh Amerika Serikat untuk menunjang kebutuhan logistik dan intelijen selama operasi berlangsung.
Dukungan juga datang dari Arab Saudi yang menyediakan pangkalan udara untuk operasional pesawat militer, termasuk E-3G Sentry, E-11A, hingga C-17 Globemaster. Kehadiran pesawat tersebut memperkuat indikasi adanya operasi militer terkoordinasi di kawasan.
Tak hanya itu, Yordania disebut memiliki peran strategis melalui Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang diduga menjadi titik peluncuran serangan ke target di Iran.
Meski demikian, pemerintah negara-negara di kawasan Teluk Persia sebelumnya secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel. Bantahan ini kontras dengan temuan di lapangan yang mengindikasikan adanya aktivitas pendukung dalam beberapa kasus.
Perkembangan ini menambah kompleksitas konflik regional yang berpotensi meluas, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara kekuatan besar di Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































