Ekspor Terus Tumbuh, Kakao Indonesia Punya Model Besar Kuasai Pasar Global

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama industri kakao dan cokelat dunia. Selain didukung meningkatnya kinerja ekspor dan potensi pasar premium, terbukanya akses melalui sejumlah perjanjian perdagangan internasional dinilai menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia.

Budi memastikan, pemerintah terus mendorong pembukaan akses pasar melalui perjanjian perdagangan dengan berbagai negara. Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, sementara dua perjanjian lainnya dalam proses ratifikasi dan 11 perjanjian masih dalam tahap negosiasi.

Perjanjian dagang tersebut diperlukan untuk menghilangkan hambatan tarif maupun non-tarif sehingga produk Indonesia lebih mudah masuk ke pasar global. "Kalau kita mempunyai perjanjian dagang, berarti kita akan lebih mudah masuk atau mengakses pasar di luar negeri," kata Budi saat menjadi pembicara kunci dalam The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026 di Yogyakarta, Kamis (23/7/2026).

Ia mencontohkan, produk cokelat menjadi salah satu komoditas yang mendapatkan peluang akses lebih besar ke pasar Amerika Serikat melalui perjanjian perdagangan yang tengah dibangun. Budi menyebut Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai 30,9 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia.

Selain Amerika Serikat, peluang besar juga terbuka di pasar Uni Eropa. Budi mengatakan, Indonesia dan Uni Eropa telah menyelesaikan substansi perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan ditargetkan menandatangani perjanjian tersebut pada September 2026.

"Jadi nanti pada September dilakukan penandatanganan. Mudah-mudahan pada Januari sudah bisa kita implementasikan. Karena tahun depan sudah tidak ada lagi GSP, Pak. Jadi, kita sudah sepakat bahwa tahun depan perjanjian ini harus diselesaikan," ungkapnya.

"Nah, itu merupakan salah satu pasar yang besar bagi kita, termasuk untuk produk cokelat kita. Cokelat juga mendapatkan keistimewaan untuk masuk ke pasar Uni Eropa," kata dia.

Menurutnya, pasar Uni Eropa menjadi salah satu tujuan penting bagi produk kakao dan cokelat Indonesia. Produk kakao dan cokelat juga termasuk komoditas yang akan mendapatkan akses lebih baik melalui perjanjian tersebut. Bahkan, produk dalam kode HS 18, mulai dari produk kakao setengah jadi hingga produk jadi, akan mendapatkan perlakuan tarif yang semakin kompetitif dan ditargetkan mencapai nol persen pada 2031.

Selain itu, Pemerintah juga terus mendorong negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat melalui Indonesia-United States Agreement on Reciprocal Trade. Budi optimistis kedua perjanjian tersebut dapat semakin membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia. Untuk mendukung peningkatan ekspor, Kementerian Perdagangan juga mengerahkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara. Perwakilan tersebut bertugas mempromosikan produk Indonesia, mengidentifikasi peluang pasar, serta memfasilitasi penjajakan bisnis antara eksportir Indonesia dan calon pembeli dari luar negeri.

"Jangan sungkan-sungkan menghubungi kami dan perwakilan kami di luar negeri," ujar Budi.

Meski begitu, ia mengingatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mendorong masa depan industri kakao Indonesia. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ekosistem kakao sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok kakao dan cokelat global.

Adapun kolaborasi ini perlu melibatkan pemerintah, petani kakao, pelaku usaha, institusi finansial, akademisi, hingga mitra internasional. Dengan sinergi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kakao sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar global.

"Kakao terus mendukung kelangsungan hidup ratusan ribu keluarga petani, menciptakan lapangan kerja melalui rantai nilai, dan memperkuat ekonomi perdesaan. Sebagai produk ekspor strategis Indonesia dengan potensi nilai tambah signifikan, masa depan kakao bergantung pada kolaborasi para pemangku kepentingan. Visi Indonesia jelas, yaitu menjadi hub global bagi produk kakao dan coklat premium yang berkelanjutan dan bernilai tambah," katanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|