Ekspektasi Gencatan Senjata AS-Iran, Harga Minyak Rontok

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia berbalik turun tajam pada perdagangan Rabu pagi ini (25/3/2026), setelah sebelumnya sempat melonjak tinggi di tengah tensi konflik Timur Tengah.

Pasar kini mulai menggeser fokus dari kekhawatiran pasokan menuju harapan meredanya konflik.

Mengacu data Refinitiv per pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent tercatat di US$98,31 per barel, turun signifikan dari posisi US$104,49 pada penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$87,99 per barel, juga melemah dari US$92,35.

Penurunan ini terjadi setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir. Bahkan pada 20 Maret, Brent sempat menyentuh US$112,19, sementara WTI berada di US$98,32.

Melansir dari Reuters, tekanan harga muncul seiring meningkatnya ekspektasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Washington dilaporkan telah mengajukan proposal perdamaian berisi 15 poin untuk mengakhiri konflik yang selama ini mengganggu distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.

Menurut analis Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, pasar mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah muncul sinyal de-eskalasi. Namun, ia menekankan bahwa arah ke depan masih belum pasti, mengingat keberhasilan negosiasi belum terjamin.

Konflik ini sebelumnya menyebabkan gangguan besar pada distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Meski demikian, ada tanda-tanda penyesuaian dari sisi suplai. Arab Saudi dilaporkan meningkatkan ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah hingga mendekati 4 juta barel per hari, sebagai upaya menghindari hambatan distribusi di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran mulai memberi sinyal pelonggaran dengan mengizinkan kapal non-hostile melintas di Selat Hormuz, meski tetap harus berkoordinasi dengan otoritas setempat. Langkah ini menjadi salah satu faktor yang meredakan kekhawatiran pasar dalam jangka pendek.

Namun risiko belum sepenuhnya hilang. Jika konflik kembali memanas terutama jika menyeret fasilitas energi di kawasan atau memicu penutupan total Selat Hormuz, harga minyak berpotensi kembali melonjak tajam dalam waktu singkat.

Pasar minyak saat ini bergerak cepat, sensitif, dan sangat bergantung pada dinamika geopolitik. Untuk sementara, harapan damai cukup untuk menekan harga

CNBC INDONESIA RESEARCH

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|