Dolar AS Sudah Kini Rp 17.630, Bisa Tembus Rp18.000?

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menyentuh level Rp 17.630/US$ pada awal perdagangan Senin (18/5/2026). Padahal, sebelumnya rupiah sempat ditutup menguat pada perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (13/5/2026), sebelum libur panjang.

Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.460/US$. Sebagai catatan, data Refinitiv menunjukkan pergerakan rupiah di pasar NDF telah mencapai Rp 17.680/US$ untuk posisi satu hari, sementara posisi satu tahun penuh telah tembus Rp 18.040/US$.

Pelemahan nilai tukar ini dipengaruhi oleh sentimen global yang masih membayangi pasar serta adanya kebutuhan pasokan dolar AS dalam musim haji 2026. Adapun, pelemahan ini dapat mempengaruhi ekonomi Indonesia pada keseluruhan. 

Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan besar: akan kah rupiah menyentuh level Rp 18.000 dalam waktu dekat?

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai pelemahan rupiah saat ini berasal dari kombinasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.

Menurutnya, pasar masih menghadapi skenario higher for onger The Fed karena inflasi inti AS masih tinggi. Hal itu membuat dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang emerging market.

Namun, pelemahan rupiah yang lebih dalam dibanding mata uang regional menunjukkan adanya faktor risiko domestik.

"Kalau murni faktor global, pergerakan rupiah seharusnya relatif sejalan dengan ringgit, baht, atau peso. Kenyataannya, pelemahan rupiah lebih dalam dalam beberapa periode terakhir, yang menunjukkan adanya tambahan country risk premium yang diminta investor untuk memegang aset Indonesia," ujar Yusuf kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (18/5/2026).

Lantas, apakah rupiah akan tembus Rp 18.000/US$ dalam waktu dekat?

Yusuf menilai pasar sebaiknya tidak terjebak pada angka psikologis tertentu. Pasalnya, lebih baik memantau indikator penentunya seperti pergerakan DXY, yield US Treasury 10 tahun, capital flow di pasar SBN, posisi cadangan devisa, serta CDS Indonesia sebagai indikator persepsi risiko negara.

"Selama Bank Indonesia masih konsisten melakukan triple intervention, cadangan devisa tetap memadai, dan tidak ada shock tambahan dari sisi fiskal maupun politik, sebenarnya masih ada bantalan untuk menjaga pasar tetap orderly. Tetapi memang harus diakui bahwa ruang gerak kebijakan menjadi lebih sempit dibanding beberapa tahun lalu," ujarnya.

Yusuf menilai kalau tekanan rupiah berlanjut lebih dalam, dampaknya akan terasa melalui beberapa jalur sekaligus. Adapun yangpling cepat merasakan dampaknya adalah inflasi impor atau imported inflation.

"Harga barang yang bergantung pada impor seperti BBM non-subsidi, obat-obatan, gandum, pakan ternak, hingga barang elektronik akan mulai naik secara bertahap," ujarnya.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) M. Rizal Taufikurahman juga menilai peluang rupiah menyentuh Rp 18.000/US$ tetap terbuka jika tekanan global terus berlanjut dan respons kebijakan dinilai pasar tidak cukup kuat.

"Indikator yang perlu dicermati antara lain arus modal asing, cadangan devisa, yield SBN, indeks dolar AS, harga minyak dunia, dan arah kebijakan suku bunga The Fed maupun Bank Indonesia," ujar Rizal kepada CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).

Dirinya memperingatkan, jika rupiah benar-benar menembus Rp 18.000/US$ dampaknya akan cepat terasa terhadap harga barang impor dan daya beli masyarakat.

"Dunia usaha yang bergantung pada impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara masyarakat akan merasakan tekanan daya beli akibat inflasi yang meningkat," ujarnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|