Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hari ini, Senin (18/5/2026). Sepanjang sesi 1, IHSG bergerak di rentang 6.398,79–6.631,28 dan sempat turun lebih dari 4%.
Pada akhir sesi 1, IHSG bertengger di level 6.470,35, turun 252,97 poin atau -3,76%. Sebanyak 715 emiten turun, 154 tidak bergerak, dan hanya 90 yang naik.
Nilai transaksi hingga akhir jeda makan siang mencapai Rp 11,94 triliun, melibatkan 20,07 miliar saham, dalam 1,71 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 11.343 triliun, turun Rp 482 triliun.
Mengutip Refinitiv, seluruh sektor berada di zona merah dengan penurunan paling dalam bahan baku -9,09%. Kemudian diikuti oleh kesehatan -6,55% dan konsumer nonprimer.
Sementara itu, saham yang menjadi pemberat utama adalah Amman Mineral (AMMN) -16,71 poin dan diikuti oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -14,11 poin dan Bank Central Asia (BBCA) -14,05 poin.
Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan, IHSG masih akan dibayangi koreksi dalam yang disebabkan oleh sentimen global, khususnya konflik geopolitik.
Ia memaparkan, konflik geopolitik yang berlarut-larut kembali meningkatkan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di atas US$100 per barelnya, sehingga mempengaruhi keputusan investasi pada aset berisiko tinggi.
Selain itu, pelemahan IHSG juga mengikuti pergerakan bursa global. Mayoritas bursa Asia yang terkoreksi ditambah dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih tertekan. "Saat ini berada di level Rp 17.676 per dolar turut membebani pergerakan IHSG," imbuhnya.
Tekanan terbesar terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index. MSCI diketahui resmi menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN); PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN); PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA); PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA); PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN); PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Selain itu, MSCI juga mencoret 13 saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index. Tak lama setelah pengumuman MSCI, penyedia indeks global lainnya FTSE ikut buka suara soal masa depan saham-saham RI yang tergabung dalam indeks besutannya. Dalam pengumuman terbaru bertajuk "Index Treatment for the June 2026 Index Review" yang dirilis Rabu (13/5/2026), FTSE memberikan sinyal keras terkait potensi penghapusan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aturan terbaru FTSE diterbitkan menyusul upaya otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi, termasuk publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC). Dalam dokumen tersebut, FTSE Russell menegaskan bahwa jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa dan keuangan, di mana saham beredar hanya dikuasai segelintir pihak, maka saham tersebut akan didepak dari indeks pada tinjauan berikutnya. "Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis pengumuman resmi tersebut. Kebijakan "harga nol" ini diambil karena FTSE menilai likuiditas saham HSC cenderung memburuk secara material. Investor institusi pengelola dana indeks (passive fund) dikhawatirkan tidak akan menemukan pembeli (counterparty) yang cukup jika harus keluar dari saham tersebut secara mendadak.
(mkh/mkh)
Addsource on Google















































