Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pada perdagangan Senin (18/5/2026) dibuka di zona merah. Rupiah melemah tajam hingga 0,97% dan terdepresiasi ke level Rp17.630/US$.
Chief Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai penguatan dolar disebabkan oleh ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve. Pelaku pasar melihat peluang penurunan suku bunga AS tahun ini semakin kecil.
"Malah ada kemungkinan suku bunga The Fed akan naik pada tahun ini setelah melihat perkembangan inflasi Amerika Serikat dari sisi Consumer Price Index yang naik ke level 3,8% year on year pada periode bulan April tahun 2026," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (18/5/2026).
Tak hanya faktor eksternal, tekanan domestik juga dinilai memperbesar pelemahan rupiah. Permintaan valuta asing meningkat seiring kebutuhan pembayaran dividen perusahaan dan musim haji.
Di sisi lain, pasokan valas domestik dinilai belum optimal karena eksportir belum sepenuhnya mengonversi devisa hasil ekspor (DHE) ke rupiah.
"Jadi Valas yang mereka punya dari aktivitas ekspor itu belum dikonversi secara penuh secara 100% sehingga supply valas domestik kita jadi kelihatan tidak bisa mengakomodir permintaan valas domestik yang tinggi. Itu penyebab-penyebabnya," ujarnya.
Myrdal pun menyoroti derasnya arus keluar dana asing atau hot money outflow dari pasar saham dan surat utang negara (SUN) yang semakin menekan rupiah.
Kendati demikian, surplus neraca perdagangan Indonesia yang masih melebar dinilai menjadi kabar baik bagi pasar. Hanya saja, pelebaran surplus tersebut juga dipengaruhi impor yang melemah akibat kurs rupiah yang semakin mahal bagi importir.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economisc (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai pelemahan rupiah saat ini berasal dari kombinasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.
Namun, pelemahan rupiah yang lebih dalam dibanding mata uang regional menunjukkan adanya faktor risiko domestik.
"Kalau murni faktor global, pergerakan rupiah seharusnya relatif sejalan dengan ringgit, baht, atau peso. Kenyataannya, pelemahan rupiah lebih dalam dalam beberapa periode terakhir, yang menunjukkan adanya tambahan country risk premium yang diminta investor untuk memegang aset Indonesia," ujar Yusuf kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (18/5/2026).
Terkait kemungkinan rupiah menyentuh angka Rp 18.000/US$, Yusuf menilai pasar sebaiknya tidak terjebak pada angka psikologis tertentu.
Pasalnya, lebih baik memantau indikator penentunya seperti pergerakan DXY, yield US Treasury 10 tahun, capital flow di pasar SBN, posisi cadangan devisa, serta CDS Indonesia sebagai indikator persepsi risiko negara.
"Selama Bank Indonesia masih konsisten melakukan triple intervention, cadangan devisa tetap memadai, dan tidak ada shock tambahan dari sisi fiskal maupun politik, sebenarnya masih ada bantalan untuk menjaga pasar tetap orderly. Tetapi memang harus diakui bahwa ruang gerak kebijakan menjadi lebih sempit dibanding beberapa tahun lalu," ujarnya.
Yusuf menilai kalau tekanan rupiah berlanjut lebih dalam, dampaknya akan terasa melalui beberapa jalur sekaligus. Adapun yang paling cepat merasakan dampaknya adalah inflasi impor atau imported inflation.
"Harga barang yang bergantung pada impor seperti BBM non-subsidi, obat-obatan, gandum, pakan ternak, hingga barang elektronik akan mulai naik secara bertahap," ujarnya.
Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, tekanan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp 17.500/US$ belum memberikan efek terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) termasuk beban utang.
Ia mengatakan, saat menyusun APBN 2026 pada tahun lalu, pemerintah kata dia telah memasukkan asumsi kurs hingga ke level Rp 17.500/US$. Sehingga, tekanannya sudah terantisipasi dalam fiskal pemerintah tahun ini.
Meskipun dalam asumsi makro yang tertuang secara resmi dalam UU APBN 2026 ialah senilai Rp 16.500/US$, jauh di bawah kondisi rupiah saat ini.
"Jadi saat waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas asumsi APBN rupiahnya. Jadi enggak saya umumin, tapi di atas itu, enggak jauh sama sekarang. Jadi APBN nya masih relatif aman," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (12/5/2026)
Kendati demikian, Purbaya memastikan dengan level yang ada saat ini, pemerintah akan terlibat aktif membantu BI mengelola tekanan dolar AS terhadap rupiah yang terus terjadi saat ini.
Ia mengklaim, kas pemerintah saat ini sangat berlimpah untuk membantu BI melakukan intervensi tekanan dolar di pasar obligasi atau bond. Namun hingga saat ini, pemerintah belum mengungkapkan strategi lebih lanjut misi penyelamatan rupiah tersebut.
(haa/haa)
Addsource on Google
















































