Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 per liter naik menjadi Rp17.000 per liter yang berlaku per 10 Juni.
REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax mulai memicu efek domino yang memukul para pelaku usaha mikro di Kabupaten Majalengka. Tak hanya memicu penurunan omzet pedagang BBM eceran, kondisi itu juga memaksa para pedagang keliling memutar otak demi menyiasati biaya operasional yang kian mencekik.
Di wilayah Kecamatan Cigasong, lesunya bisnis eceran itu dirasakan langsung oleh Ucup (48 tahun). Pedagang bensin eceran tersebut mengaku volume penjualannya merosot tajam hingga 50 persen.
"Biasanya satu hari bisa habis dua jeriken (sekitar 67 liter). Sekarang, dua hari baru habis," keluh Ucup, Senin (15/6/2026).
Menurut Ucup, konsumennya kini lebih memilih berburu Pertalite langsung ke SPBU resmi. Selisih harga yang menyentuh angka Rp 6.300 per liter menjadi alasan utama masyarakat bermigrasi ke BBM bersubsidi.
Kelesuan serupa juga membayangi para pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Majalengka. Mereka harus rela melihat pendapatan bersihnya tergerus biaya BBM yang membengkak.

3 hours ago
2

















































