Dukung Iran Lawan AS-Israel, Din: Ini bukan Saatnya Ungkit Perbedaan Sunni-Syiah!

6 hours ago 2

Profesor Din Syamsuddin (baris depan, kedua dari kanan) dalam acara bincang-bincang bersama tokoh-tokoh Muslim dan cendekiawan di Jakarta Selatan, Rabu (3/9/2025)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cendekiawan Muslim Prof Din Syamsuddin mengutuk keras tindakan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang wilayah Republik Islam Iran sejak akhir Februari lalu hingga kini. Menurut ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 2005-2015 itu, seluruh kaum Muslim sudah sepantasnya berada dalam posisi mendukung Iran dalam melawan kezaliman Washington-Tel Aviv.

Selama ini, Iran memang dikenal luas sebagai sebuah negara yang menganut paham Syiah. Bagaimanapun, tegas Din, kini bukan saatnya mengungkit-ungkit perbedaan paham dalam lingkup keislaman, apalagi sampai takfiri.

Yang diperlukan sekarang adalah penguatan rasa persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Seruan persatuan ini pun, jelas Din, terus digaungkan tokoh-tokoh Muslim dari berbagai belahan dunia Islam, termasuk Grand Syekh al-Azhar, Syekh Ahmed el-Tayeb.

“Bukan saatnya lagi kita mempertentangkan perbedaan antara Sunni dan Syiah, Arab dan Persia. Kita adalah umat satu, dengan kitab suci yang satu---Alquran---dan satu kiblat, Ka’bah Baitullah," ucap Din Syamsuddin dalam jumpa pers usai menghadiri pertemuan dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia, HE Mohammad Boroujerdi, di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Jumat (3/4/2026).

Din juga mengingatkan umat Islam, khususnya di Indonesia, agar tidak terjerumus dalam upaya adu domba (divide et impera) yang menurutnya dimainkan oleh pihak-pihak tertentu. Termasuk yang patut diwaspadai ialah propaganda dan dengungan para buzzer anti-Iran yang cenderung suka memecah-belah umat Islam.

Ia pun menyerukan kepada pemerintah RI dan masyarakat Tanah Air untuk turut menjaga persatuan umat dan tidak terprovokasi oleh narasi perpecahan.

“Saatnyalah untuk bersatu padu, untuk tidak terhasut, terprovokasi, oleh politik devide et impera ala kolonial penjajah yang mengadu domba di antara kita, umat Islam,” ujar Guru Besar Ilmu Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah itu.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|