Di Tengah Risiko Perang AS-Iran, Bankir Putar Otak Jaga Likuiditas

14 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia — Di tengah kondisi geopolitik yang kian meluas, industri perbankan RI berhadapan dengan sejumlah risiko. Mulai dari penurunan permintaan kredit, risiko pasar, inflasi, nilai tukar, dan lain sebagainya.

Para bankir pun perlu memutar otak guna menjaga kondisi likuiditas. Seperti PT Bank Mega Tbk. (MEGA) yang berhati-hati dalam penyaluran kredit sembari mengalokasikan dananya ke instrumen yang lebih berharga.

Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib menyatakan bahwa pihaknya memiliki kebijakan menjaga rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit (LDR) ratio dijaga di kisaran 70%, di bawah ketentuan Bank Indonesia (BI) di kisaran 78%-92%. Meskipun keputusan itu akan dikenakan denda giro wajib minimum (GWM), ia menyebut pertimbangan menjaga likuiditas lebih penting.

"Bagi Bank Mega menjaga likuiditas itu, kita merasa jauh lebih penting. Terutama kalau terjadi krisis. Pengalaman kita kalau terjadi krisis itu uang yang ditarik customer itu sekitar 30% dari uang yang ada di bank. Oleh karena itu Bank Mega selalu menjaga policy likuiditas kita di itu," tegas Kostaman saat ditemui di Auditorium Bank Mega, Selasa (31/3/2026).

Bank papan tengah milik CT Corp itu juga berupaya menjaga stabiltas likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah (low cost funding).

Bank swasta lainnya, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menyatakan bahwa saat ini kondisi likuiditasnya masih baik. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan itu karena permintaan kredit lemah.

Kendati, ia menyebut bank swasta terbesar kedua RI itu tetap akan mengejar pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA), terutama dari nasabah non ritel.

"Saat ini likuiditas masih baik karena memang demand terhadap kredit juga lemah. Namun kami tetap fokus untuk CASA terutama dari segment non ritel," kata Lani saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

CIMB Niaga tetap berniat untuk mengoptimalkan fungsi intermediasinya, dengan LDR dipatok sekitar 85%-90%.

Lani kemudian menyebut pihaknya memiliki stress test scenario yang mumpuni, terkoordinasi dengan internal CIMB Niaga bersama regulator.

Terpisah, salah satu big banks RI, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga berupaya mengoptimalkan fungsi intermediasi, dengan target di kisaran 89% hingga 92% pada akhir tahun 2026.

Corporate Secretary BRI, Dhanny mengatakan likuiditas bank pelat merah itu cukup manageable di tengah kondisi perang AS-Iran. Ia menyebut BRI terus menjaga komposisi dana murah dengan tetap selektif dalam memberikan kredit.

"BRI secara konsisten menjaga komposisi dana murah (CASA), menyalurkan kredit secara selektif, serta menyediakan buffer likuiditas yang memadai. Selain itu, optimalisasi seluruh sumber likuiditas terus dilakukan untuk menjaga rasio likuiditas seperti LCR dan NSFR sesuai ketentuan regulator," ujar Dhanny saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Di sisi lain, ia menyebut aktivitas transaksi nasabah tetap menunjukkan kinerja yang solid, didukung oleh kuatnya ekosistem digital BRI. Mayoritas transaksi telah dilakukan melalui channel digital seperti BRImo dan QLola by BRI, yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan dana murah melalui peningkatan frekuensi dan volume transaksi serta meningkatkan fee based income.

"Stabilnya aktivitas transaksi ini turut memperkuat posisi likuiditas perseroan, seiring dengan terjaganya arus kas masuk dari berbagai segmen nasabah, baik ritel, UMKM, maupun korporasi," papar Dhanny.

Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) alias KB Bank menyatakan telah melakukan langkah mitigasi risiko dan antisipasi secara proaktif melalui pemantauan serta pengelolaan eksposur pada sektor-sektor yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap volatilitas indikator makroekonomi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyebut sektor-sektor tersebut antara lain manufaktur dengan ketergantungan impor tinggi, transportasi, logistik dan distribusi, energi dan komoditas strategis, serta ritel dan konsumsi.

Dari sisi manajemen risiko, langkah yang ditempuh mencakup pengawasan dan evaluasi berkala untuk mengukur sensitivitas permodalan, termasuk kecukupan CAR terhadap berbagai skenario kenaikan NPL yang dipicu oleh guncangan eksternal. Kunardy menyebut pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa permodalan dan likuiditas bank KBMI II itu tetap berada pada level yang memadai dalam berbagai kondisi ekonomi.

"Apabila konflik bersifat sementara dan tidak menimbulkan disrupsi ekonomi yang luas, dampaknya terhadap pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) akan disesuaikan dengan perkembangan risiko aktual yang dihadapi Bank pada periode berjalan," terang Kunardy saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Bank milik Kookmin Bank asal Korea Selatan itu tetap ingin mengoptimalkan fungsi intermediasi, dengan target LDR sekitar 90%.

Bank asal Korea Selatan lainnya, PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) juga berniat tetap mengoptimalkan LDR, di kisaran 80% hingga 90%. Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah menyebut bank harus menjaga buffer likuiditas yang kuat melalui peningkatan aset likuid (HQLA), memperkuat dana CASA, serta menyiapkan contingency funding plan dan melakukan stress testing secara berkala.

"Memang jika konflik AS-Iran berkepanjangan berpotensi menekan likuiditas melalui volatilitas pasar global, potensi capital outflow, pelemahan nilai tukar, serta kenaikan harga energi yang dapat memicu inflasi dan suku bunga. Kondisi ini dapat meningkatkan memperketat likuiditas di pasar keuangan," tuturnya dia saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Selain itu, Efdinal mengatakan pihaknya juga memastikan kesiapan contingency funding plan serta melakukan koordinasi aktif dengan regulator untuk menjaga stabilitas likuiditas secara berkelanjutan.

Kemudian ia menyebut OK Bank menjaga komunikasi dengan nasabah dan berkoordinasi aktif dengan regulator untuk memastikan stabilitas likuiditas.

Terpisah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut saat ini bank-bank secara sukarela melakukan stress test. Selain itu, tim pengawas perbankan OJK juga melakukan stress test bahkan terhadap bank secara individual terkait transmisi risiko baik dari nilai tukar, inflasi, dan lain sebagainya.

"Itu semua itu nanti sedang kita analisis secara mendalam, apa sih kemudian implikasinya, market risk apa yang akan dihadapi bank dan lain sebagainya itu nanti kita akan betul-betul kita perhatikan dari waktu ke waktu dan bahkan per individual bank, akan kita perhatikan," imbuh
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae saat ditemui di Gedung DPR RI, Rabu (1/4/2026).

(mkh/mkh)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|