Peserta menunjukkan hasil pembuatan ecoprint dari kertas semen di Kemantren Gondokusuman, Kamis (16/4/2026). - ist - Kemantren Gondokusuman
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya pengelolaan sampah di kawasan perkotaan terus berkembang dengan pendekatan kreatif. Di Kemantren Gondokusuman, sampah kertas semen kini diolah menjadi produk ecoprint yang bernilai guna sekaligus ekonomis.
Kegiatan ini diwujudkan melalui pelatihan daur ulang sampah yang digelar di Pendopo Kemantren Gondokusuman, di Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (16/4/2026). Pelatihan tersebut menjadi bagian dari inovasi pengurangan limbah sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman, Guritno, menjelaskan pelatihan ini bertujuan meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola sampah sekaligus mendorong kreativitas.
Pelatihan menghadirkan praktisi ecoprint yang memaparkan konsep dasar serta pemanfaatan kertas semen sebagai media alternatif.
“Di situ peserta mempraktikkan langsung pembuatan ecoprint, mulai dari pembersihan bahan, proses perendaman, penataan daun, pengukusan, hingga finishing agar hasil lebih awet,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Hasil praktik menunjukkan motif daun dapat tercetak dengan baik pada kertas semen.
Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari tas, totebag, kipas, sampul buku, hingga kemasan produk UMKM.
“Melalui pelatihan ini, Kemantren Gondokusuman berharap masyarakat semakin teredukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah serta mampu mengembangkan kreativitas melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang bermanfaat,” katanya.
Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Lingkungan
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis lingkungan di wilayah perkotaan.
Kemantren Gondokusuman menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sejalan dengan upaya menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi timbulan sampah.
Selain itu, inovasi ini membuka peluang bagi warga untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai jual.
Ecoprint sendiri merupakan teknik pewarnaan alami yang memanfaatkan pigmen dari daun, bunga, batang, atau akar untuk menghasilkan pola unik pada berbagai media.
Proses pembuatannya dimulai dari merendam media dalam larutan air tawas atau cuka selama sekitar 10 menit agar warna lebih tahan lama, kemudian dikeringkan.
Setelah itu, media dibentangkan dan dihias dengan daun atau bunga sesuai selera, lalu ditutup plastik dan dipukul menggunakan palu hingga warna berpindah ke permukaan.
Langkah berikutnya adalah membersihkan sisa daun, mengeringkan di tempat teduh selama dua hingga tiga hari, kemudian merendam kembali dalam larutan pengunci warna seperti tawas atau tunjung sebelum dibilas dan dikeringkan.
Di Kota Jogja, ecoprint telah berkembang sebagai inovasi ramah lingkungan yang digeluti warga dan pelaku UMKM.
Penggunaan kertas semen sebagai media menjadi terobosan baru dalam mendukung pengelolaan sampah anorganik secara kreatif dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































