Saat Sektor Lain Tertekan Pertanian Justru Menguat

6 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA—Sektor pertanian kembali menunjukkan peran krusial dalam menopang ekonomi nasional di tengah dinamika global. Bank Indonesia mencatat aktivitas dunia usaha tetap berada di zona positif, dengan sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama.

Pada triwulan I 2026, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen. Angka ini memang sedikit turun dari triwulan sebelumnya yang mencapai 10,61 persen, namun masih mencerminkan kinerja usaha yang terjaga.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Anton Pitono menyebut mayoritas sektor usaha tetap tumbuh positif.

“Hasil SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 terjaga,” ujarnya.

Selain pertanian, sektor lain yang turut mencatat kinerja baik meliputi jasa keuangan, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran. Aktivitas ini didorong peningkatan permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah, yang beriringan dengan musim panen.

Dari sisi operasional, kapasitas produksi terpakai meningkat menjadi 73,33 persen, naik dari 73,15 persen pada triwulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama ditopang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta industri pengolahan.

Kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai tetap solid, baik dari sisi likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses pembiayaan yang relatif lebih mudah.

Musim Panen Dorong Kinerja Usaha

Memasuki triwulan II 2026, kinerja dunia usaha diperkirakan meningkat. Bank Indonesia memproyeksikan SBT mencapai 14,80 persen, dengan sektor pertanian kembali menjadi penggerak utama seiring berlanjutnya musim panen.

“Responden memprakirakan kegiatan usaha pada triwulan II 2026 meningkat dengan SBT sebesar 14,80 persen,” kata Anton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai capaian tersebut menunjukkan pertanian kini bukan sekadar penyangga, melainkan motor utama ekonomi nasional.

“Pertanian hari ini bukan hanya penyangga, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Ketika sektor lain mengalami tekanan, pertanian justru hadir sebagai solusi dan penopang utama,” ujarnya.

Penguatan sektor ini, lanjutnya, didorong berbagai langkah strategis seperti percepatan tanam, optimalisasi lahan, pompanisasi, serta perbaikan irigasi dan distribusi pupuk.

Ekspor Naik Impor Turun

Kinerja pertanian juga tercermin dari perdagangan luar negeri. Pada 2025, nilai ekspor sektor pertanian meningkat Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen, sementara impor turun Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66 persen.

Kondisi ini menunjukkan sektor pertanian semakin kompetitif di pasar global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Produksi komoditas utama seperti padi dan jagung juga meningkat, dengan cadangan beras pemerintah (CBP) diperkirakan mencapai 5 juta ton pada akhir April 2026.

“Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia,” tegas Amran.

Dari sisi kesejahteraan, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35—tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sementara Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian pada 2025 tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

Capaian tersebut memperkuat posisi sektor pertanian sebagai fondasi ekonomi nasional sekaligus penjaga ketahanan pangan di tengah tantangan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|