Dentuman Rudal dan Suara Merdu Pendaratan di Tanah Air

7 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pada akhir Februari 2026, ketika doa-doa kecil melintas di benak para pelancong, agar perjalanan sedikit diperpanjang, agar bisa menikmati satu hari lagi di kota yang berkilau, langit Timur Tengah tiba-tiba membisu. Doa itu terkabul dengan cara yang tak pernah dibayangkan: sebuah perjalanan sederhana berubah menjadi penantian panjang tanpa kepastian pulang.

Malam 27 Februari, pesawat yang membawa sejumlah penumpang mendarat mulus di Bandara Internasional Zayed, Abu Dhabi. Transit beberapa jam sebelum melanjutkan ke Jakarta terasa biasa saja. Bandara itu, dengan arsitektur futuristiknya yang luas dan ritme teratur, selalu menjadi simpul nyaman bagi ribuan jiwa yang berlalu-lalang antara benua. Sebagian penumpang memilih keluar sejenak, menikmati udara segar Abu Dhabi, kota yang tertata rapi, jalanannya bersih, gedung-gedungnya menjulang seperti mimpi yang terwujud.

Pagi berikutnya, 28 Februari sekitar pukul 10.00 waktu setempat, segalanya berubah. Lini masa media sosial dipenuhi kabar serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tak lama kemudian, dentuman balasan terdengar dari kejauhan. Emergency alert berdering serentak di ponsel warga dan pendatang, memperingatkan peningkatan kewaspadaan. Ketegangan merayap cepat, seperti kabut yang menyelimuti gurun.

Otoritas Uni Emirat Arab segera menutup sebagian wilayah udaranya. Bandara Zayed Abu Dhabi, Dubai International, hingga Ras Al Khaimah menghentikan operasional penerbangan komersial. Ribuan penumpang internasional mendadak terdampar. Data pariwisata Abu Dhabi mencatat sekitar 20.000 visitor terdampak. Bagi yang masih di dalam bandara, antrean panjang di konter maskapai setidaknya menawarkan harapan kecil. Namun bagi mereka yang telah keluar ke kota, kembali ke terminal menjadi mimpi buruk: akses dijaga ketat, kendaraan patroli berjaga di setiap titik, dan bandara berubah menjadi zona terbatas.

Di antara mereka yang tertahan adalah puluhan warga negara Indonesia. Doa agar bisa tinggal lebih lama kini terasa getir. Kemewahan hotel bintang lima, jalanan yang rapi, dan keamanan tinggi tak lagi terasa nyaman. Seperti kata seorang penumpang, bahkan sangkar emas pun tak bisa menggantikan kasur tipis di kamar sendiri, tempat di mana rasa aman dan kebebasan hadir tanpa syarat.

Solidaritas muncul di tengah ketidakpastian itu. WNI yang menetap di Abu Dhabi membuka pintu rumah mereka bagi saudara-saudara yang kehilangan tempat berteduh. Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi dan Konsulat Jenderal RI di Dubai bergerak cepat. Duta Besar Judha Nugraha memastikan setiap WNI terdata dan terhubung dalam grup komunikasi. Pertemuan daring digelar, suara-suara lelah berbagi cerita, dan negara hadir, bukan sekadar janji, melainkan kehadiran nyata yang menenangkan.

Hari-hari berlalu dengan ritme berbeda. Masyarakat UEA menghadapi situasi dengan ketenangan luar biasa, kepercayaan pada pemerintah dan sistem keamanan mereka begitu kuat. Sekolah beralih daring, aktivitas berlanjut dengan kewaspadaan tinggi tapi tanpa kepanikan. Emergency alert yang semula menegangkan perlahan menjadi bagian keseharian. Di bandara, dentuman intersepsi rudal sempat membuat penumpang berlarian mencari tempat aman, antrean mengular, kekacauan sesaat terjadi, namun cepat terkendali.

Harapan akhirnya tiba pada 5 Maret 2026. Tiga puluh WNI mendapatkan slot penerbangan repatriasi dengan Etihad Airways menuju Singapura, sebelum melanjutkan ke Tanah Air. Pagi itu, Bandara Zayed terasa lebih lengang. Proses check-in berlangsung ketat, staf KBRI membantu mengurus dokumen dan visa darurat. Di tengah antrean, dentuman kembali terdengar. Petugas memerintahkan semua menjauh dari jendela, barang ditinggalkan, aktivitas dihentikan sepuluh menit. Tak ada yang boleh merekam. Setelah dinyatakan aman, proses dilanjutkan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|