Dari Sawah ke Tanah Suci, Kisah Mardijiyono Menjemput Haji di Usia 103

3 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Langkahnya pelan, namun arah hidupnya tak pernah goyah. Di usia 103 tahun, Mardijiyono Kartosentono justru bersiap menempuh perjalanan terjauh dalam hidupnya—menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, sebuah cita-cita yang ia rawat sejak muda.

Saat ditemui di kediaman keluarganya di Kapanewon Berbah, Sleman, Rabu (1/4/2026), ia tak banyak bicara. Bahkan ketika ditanya usianya, jawabannya sederhana.

“Usia... 100 lebih,” ucapnya lirih.


Cucunya, Dewi Rusmala, kemudian menegaskan, “103 tahun.”

Angka itu bukan sekadar penanda umur panjang. Di baliknya, tersimpan perjalanan hidup yang dibangun dari kerja keras, kesabaran, dan keyakinan yang tak pernah padam.

Calon jemaah haji asal Bantul, Mardijiyono Kartosentono, saat ditemui di kediaman keluarganya di Berbah, Sleman, Rabu (1/4/2026). - Harian Jogja/Ariq Fajar Hidayat

Sejak kecil, ia hidup di Karanganom, di Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Sawah menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya. Bertahun-tahun ia menggantungkan hidup dari hasil tani, sembari menyisihkan sedikit demi sedikit untuk satu tujuan besar: berangkat haji.

Menabung Sejak Muda, Mengayuh Harapan dari Pasar

Perjalanan menuju Tanah Suci bagi Mardijiyono bukan sesuatu yang instan. Ia mulai menabung bahkan sejak sebelum menikah. Di masa mudanya, ia terbiasa bangun jauh sebelum fajar.

“Dulu waktu kecil, jam 2 malam sudah ke pasar beli sayuran, lalu dibawa pulang pakai sepeda onthel untuk dijual pagi harinya,” ujar Dewi.

Selain bertani, ia juga beternak sapi. Sebagian hasil ternak dijual, bukan untuk kebutuhan sesaat, melainkan untuk mewujudkan impian yang baru akan ia gapai puluhan tahun kemudian.

“Iya, kejar pahala. Mumpung masih sehat,” kata Mardijiyono singkat.

Ia mendaftar haji sekitar tujuh tahun lalu. Bahkan keluarga sempat mengajaknya umroh lebih dulu pada 2023, khawatir waktu tak cukup menunggu antrean. Namun usia panjang dan kondisi kesehatan yang tetap terjaga membuat kesempatan itu akhirnya datang.

Bangkit dari Cedera, Menguat karena Panggilan Ibadah

Perjalanan hidupnya tak selalu mulus. Pada 2022, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang. Kondisinya sempat menurun drastis hingga lebih banyak terbaring.

“Saya dulu jatuh sepele, cuma terpeleset tapi kaki saya patah di tahun 2022. Saya heran, padahal dulu pernah tertabrak motor tidak apa-apa,” ujarnya.

Keluarga sempat dihadapkan pada pilihan operasi besar. Namun mereka memilih membawa Mardijiyono ke pengobatan alternatif di Salatiga.

“Setelah ditangani, Bapak langsung disuruh jalan dan ternyata bisa. Padahal sebelumnya harus digotong karena sakit sekali,” ujar anaknya, Warjiyem.

Sejak saat itu, pemulihannya berjalan perlahan. Warjiyem, anak kedua dari delapan bersaudara, merawatnya intensif dengan satu tujuan: mengembalikan kemandirian sang ayah.

“Saya bilang, ‘Ayo Pak, biar bisa naik pesawat lagi ke Mekkah, ayo sembuh,’” katanya.

Dorongan sederhana itu justru menjadi titik balik. Perlahan, kondisi Mardijiyono membaik.

“Iya, begitu dapat panggilan ibadah, langsung sembuh. Sekarang bisa pakai baju sendiri, mandi sendiri, makan sendiri,” lanjutnya.

Mandiri di Usia Senja, Siap Berangkat Tanpa Pendamping

Semangat berhaji membuatnya kembali aktif. Ia bahkan mengikuti manasik haji bersama calon jemaah lain, meski menjadi yang paling sepuh di antara mereka.

“Kemarin saat latihan manasik juga semangat sekali karena banyak teman-temannya yang seumuran,” ujar Warjiyem.

Secara medis, kondisinya dinyatakan layak berangkat. Setelah sempat mengalami kurang darah, kesehatannya kini stabil.

“Alhamdulillah, kemarin dites dokter semua normal dan sehat,” kata Dewi.

Rencananya, Mardijiyono akan berangkat ke Arab Saudi pada 2 Mei 2026 tanpa pendamping keluarga. Ia akan didampingi petugas haji karena masuk kuota prioritas lansia.

Keluarga pun membiasakannya mandiri sejak sekarang.

“Saya selalu dorong supaya mandiri, karena nanti di Mekkah tidak ada anak atau cucu yang mendampingi,” ujar Warjiyem.

Di balik perjalanan itu, terselip kisah spiritual yang menguatkan keyakinan keluarga. Saat umroh, ia pernah merasa seperti “digendong” sosok tinggi besar, meski secara fisik ia didorong dengan kursi roda.

Kini, hari keberangkatan semakin dekat. Harapan keluarga sederhana, namun penuh makna.

“Harapannya semoga menjadi haji yang mabrur, pulang dengan umur panjang,” kata Warjiyem.

Di usia 103 tahun, Mardijiyono tak lagi mengejar dunia. Ia hanya menapaki panggilan yang telah ia tunggu sepanjang hidup, dengan langkah yang mungkin pelan, tetapi keyakinan yang tak tergoyahkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|