Dari Sampah Jadi Nilai, Muja Muju Perkuat Peran Bank Sampah

6 hours ago 2

Dari Sampah Jadi Nilai, Muja Muju Perkuat Peran Bank Sampah Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Muja Muju mendorong perubahan cara warga mengelola sampah dengan memperkuat kapasitas pengelola bank sampah. Upaya ini diarahkan untuk membangun sistem yang lebih profesional sekaligus mendorong ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Langkah tersebut dilakukan melalui bimbingan teknis (bimtek) yang menyasar pengelola bank sampah di wilayah Muja Muju, di Kota Jogja, Selasa (31/3/2026). Kegiatan ini tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga penguatan kelembagaan dan peran sosial penggerak lingkungan.

Lurah Muja Muju, Dwi Wahyudi Hamzah, mengatakan pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan manajerial, administrasi, hingga ketahanan psikologis para pengelola.

“Bank sampah tidak hanya soal kumpul dan jual sampah, tapi juga membangun sistem yang rapi, transparan, dan berkelanjutan. Di situlah kepercayaan masyarakat terbentuk,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi tentang struktur organisasi, pembagian peran, serta akuntabilitas keuangan. Penataan organisasi dinilai penting agar pengelolaan berjalan efektif dan terkoordinasi.

Sementara itu, aspek administrasi difokuskan pada pencatatan keuangan yang tertib dan transparan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat sebagai nasabah bank sampah.

Tak hanya itu, peserta juga dibekali motivasi untuk menjaga konsistensi sebagai penggerak lingkungan. Mereka didorong mampu mengajak masyarakat terlibat aktif dalam pengelolaan sampah.

“Para pengelola bank sampah diajak memahami cara menjaga semangat dan konsistensi dalam menjalankan peran sebagai penggerak lingkungan di tengah berbagai tantangan,” kata Dwi.

Program ini juga menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah dari pola konvensional “kumpul-angkut-buang” menuju pendekatan reduce, reuse, recycle (3R). Perubahan ini dinilai penting seiring meningkatnya volume sampah akibat pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi.

Dengan sistem yang lebih terstruktur, bank sampah tidak hanya berfungsi mengurangi beban sampah ke depo, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Selain itu, sampah yang terpilah memiliki nilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan warga.

Pemkot berharap penguatan kapasitas ini mampu menjadikan bank sampah sebagai motor penggerak ekonomi sirkular di tingkat kelurahan.

“Keberhasilan program tersebut dinilai tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|