Kader posyandu di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen. (Istimewa)
Harianjogja.com, JOGJA— Dedikasi puluhan tahun seorang kader posyandu di Kota Jogja akhirnya berbuah pengakuan. Nonoh Maryonah menerima penghargaan sebagai Kader Kesehatan Inspiratif setelah kiprahnya dinilai berhasil membantu menekan kasus gizi buruk dan stunting di wilayahnya.
Penghargaan tersebut diberikan dalam momentum satu tahun kepemimpinan Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan. Apresiasi itu menjadi penanda perjalanan panjang Nonoh yang sejak 1980 konsisten mendampingi warga di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen.
Selama puluhan tahun, Nonoh memilih turun langsung ke lapangan, bahkan hingga ke dapur. Ia memasak setiap hari untuk memastikan balita dengan kondisi gizi buruk mendapatkan asupan yang layak.
“Waktu itu kalau tidak salah ada 4-5 anak yang gizi buruk itu. Tiap hari saya masakkan yaitu berupa nasi, sayur, lauk, buah, sama minum, biasanya kacang hijau gitu. Tiap hari itu dulu itu,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Upaya itu dilakukan di tengah keterbatasan. Pada era 1980 hingga 1990-an, bantuan hampir tidak tersedia. Puskesmas hanya memberikan kacang hijau dan gula, sementara kebutuhan lain harus diusahakan sendiri oleh kader.
“Kalau dulu kan tidak ada biaya sama sekali, cuma dari Puskesmas cuma dapat kacang hijau sama gula itu. Kalau sekarang-sekarang kan enak, ada uang apa-apa banyak lah. Kalau dulu ‘80, ‘90 sampai 2000-an tidak ada apa-apa,” katanya.
Tak hanya soal gizi, Nonoh juga aktif mendampingi warga dalam akses layanan kesehatan. Ia kerap mengantar pasien ke rumah sakit, mulai dari balita kurang gizi hingga penderita penyakit menular.
Peran tersebut bahkan meluas hingga menjadi pendamping minum obat bagi pasien tuberkulosis (TBC) serta membantu penanganan warga dengan gangguan kesehatan jiwa.
“Misalnya yang ODGJ saya itu kadang nganter pakai biaya sendiri. Nganter ke Ghrasia, Sardjito, Rumah Sakit Ludiro. Ya gitu peran saya itu waktu itu,” katanya.
Wilayah dampingan Nonoh berada di bantaran sungai dengan kepadatan tinggi dan sanitasi terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam membangun kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan.
“Iya sampai sekarang ya sulit kebersihan itu, terutama menegur orang-orang yang kurang inilah,” ujarnya.
Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Jumlah kader kesehatan meningkat dan kesadaran masyarakat perlahan tumbuh. Jika dulu hanya lima kader menangani hampir 90 balita, kini jumlah kader mencapai 18 orang dengan jumlah balita sekitar 30-an.
“Kalau dulu saya susah sekali mencari kader itu. Sekarang sudah banyak yang sadar,” ucapnya.
Program penanganan stunting juga semakin terstruktur. Pemerintah kini menghadirkan bantuan makanan tambahan serta membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas mendistribusikan asupan gizi harian.
“Sekarang kan ada TPK dibentuk. Jadi tiap hari itu menerima ini kan sudah ada grupnya itu, wilayah saya ada 4 orang tugasnya yang nganter-nganter makanan itu tiap hari diantar,” katanya.
Meski telah menerima penghargaan, Nonoh mengaku tidak pernah membayangkan kiprahnya akan mendapat perhatian. Baginya, semua dilakukan semata-mata untuk membantu warga agar hidup lebih sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































