Daihatsu Tertarik Teknologi EV Perodua, Pasar Indonesia Ikut Diuntungkan

4 hours ago 5

Jumali

Jumali Senin, 31 Agustus 2026 07:27 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Peta persaingan mobil listrik di Asia Tenggara berpotensi mengalami perubahan menarik. Jika selama ini Daihatsu dikenal sebagai pemasok teknologi bagi Perodua, ke depan situasinya bisa berbalik. Produsen otomotif Malaysia tersebut berpeluang menjadi penyedia platform kendaraan listrik bagi Daihatsu, sebuah langkah yang dapat membuka peluang hadirnya mobil listrik baru dengan harga lebih terjangkau di pasar Indonesia.

Wacana kolaborasi itu mencuat setelah Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia Johari Abdul Ghani bertemu Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Takuo Komori. Dalam pertemuan tersebut, Paultan mengungkapkan, kedua pihak disebut membahas peluang kerja sama pengembangan kendaraan listrik antara Daihatsu dan Perodua di Malaysia.

Meski belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan, pembahasan tersebut menarik perhatian industri otomotif karena Perodua kini telah memiliki modal penting berupa kendaraan listrik QV-E yang dikembangkan secara mandiri.

QV-E Jadi Aset Strategis Perodua

Berbeda dengan sebagian besar model Perodua sebelumnya yang banyak memanfaatkan teknologi Daihatsu, QV-E dikembangkan tanpa menggunakan basis kendaraan listrik dari mitra Jepangnya tersebut.

Langkah ini dilakukan karena Daihatsu hingga kini belum memiliki model mobil listrik yang dapat dijadikan fondasi pengembangan kendaraan serupa di Malaysia.

Keberhasilan Perodua menghadirkan QV-E membuat perusahaan tersebut kini memiliki posisi yang lebih strategis dalam pengembangan kendaraan listrik regional. Kondisi itu membuka kemungkinan baru, termasuk penggunaan platform QV-E oleh Daihatsu untuk mengembangkan produk bermerek sendiri.

Bagi industri otomotif ASEAN, skenario tersebut menjadi menarik karena menunjukkan kemampuan produsen regional dalam mengembangkan teknologi elektrifikasi secara mandiri.

Indonesia Berpotensi Menjadi Pasar Utama

Indonesia menjadi salah satu negara yang berpeluang merasakan dampak langsung jika kerja sama tersebut benar-benar terwujud.

Daihatsu selama ini memiliki basis konsumen yang kuat di Indonesia melalui berbagai model kendaraan penumpang dan kendaraan komersial ringan. Jaringan dealer yang luas juga menjadi modal penting jika perusahaan memutuskan masuk lebih agresif ke segmen mobil listrik.

Di saat yang sama, pasar kendaraan listrik nasional semakin kompetitif dengan kehadiran berbagai merek asal China yang menawarkan harga agresif dan fitur melimpah.

Kehadiran mobil listrik berbasis Perodua dengan logo Daihatsu dapat menjadi alternatif baru bagi konsumen Indonesia yang menginginkan kendaraan listrik dengan harga kompetitif serta dukungan layanan purna jual yang sudah dikenal luas.

Dua Arah Kerja Sama yang Masih Terbuka

Meski banyak spekulasi mengenai kemungkinan Daihatsu menggunakan platform QV-E, skenario tersebut bukan satu-satunya opsi yang tersedia.

Presiden dan CEO Perodua Zainal Abidin Ahmad sebelumnya mengungkapkan bahwa Daihatsu telah menunjukkan ketertarikan untuk ikut terlibat dalam pengembangan kendaraan listrik Perodua.

Artinya, kerja sama yang terjalin nantinya tidak harus berupa penggunaan langsung QV-E oleh Daihatsu. Bisa saja kedua perusahaan bersama-sama mengembangkan model listrik baru dengan memanfaatkan pengalaman dan teknologi masing-masing.

Menariknya, Toyota juga disebut pernah menawarkan peluang kolaborasi kepada Perodua dalam pengembangan kendaraan listrik.

Saat ini Perodua dikabarkan tengah menyiapkan model EV baru yang ukurannya lebih kecil dibandingkan QV-E. Mobil tersebut akan memanfaatkan platform listrik yang sama sehingga biaya pengembangan dan produksi dapat ditekan.

Skala Produksi Jadi Kunci

Jika platform yang dikembangkan Perodua nantinya digunakan oleh beberapa merek sekaligus, termasuk Daihatsu dan Toyota, keuntungan terbesar yang bisa diperoleh adalah peningkatan skala produksi.

Semakin besar volume produksi, biaya pengembangan kendaraan listrik dapat ditekan sehingga harga jual berpotensi menjadi lebih kompetitif.

Bagi Daihatsu, kolaborasi semacam ini juga memungkinkan perusahaan memperoleh akses terhadap teknologi kendaraan listrik tanpa harus membangun seluruh fondasi pengembangan dari nol.

Sementara bagi Perodua, kerja sama tersebut dapat memperluas jangkauan produknya ke pasar yang lebih besar, termasuk negara-negara ASEAN seperti Indonesia.

Hingga kini belum ada kepastian apakah QV-E nantinya akan hadir dengan merek Daihatsu atau menjadi dasar pengembangan model baru bagi beberapa produsen otomotif. Namun satu hal yang mulai terlihat adalah perubahan peran dalam hubungan kedua perusahaan. Jika selama puluhan tahun Daihatsu menjadi sumber teknologi bagi Perodua, era elektrifikasi justru membuka peluang bagi Perodua untuk berkontribusi lebih besar dalam masa depan kendaraan listrik kawasan Asia Tenggara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|