Bukan Karena Pasangan! Studi Ungkap Pria Menikah Saat Hidupnya Siap

5 hours ago 8

Jumali

Jumali Rabu, 24 Juni 2026 12:47 WIB

Bukan Karena Pasangan! Studi Ungkap Pria Menikah Saat Hidupnya Siap

Pernikahan - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kesiapan pribadi disebut menjadi faktor yang sering kali lebih menentukan dibanding sekadar menemukan pasangan yang dianggap ideal dalam keputusan seorang pria untuk menikah. Sejumlah kajian psikologi menunjukkan bahwa komitmen jangka panjang tidak hanya dipengaruhi oleh “siapa” pasangan yang ditemui, tetapi juga “kapan” seseorang merasa siap memasuki tahap kehidupan yang lebih serius.

Dalam banyak kasus, keputusan untuk berkomitmen muncul ketika seseorang merasa hidupnya telah berada pada fase stabil. Tanda-tanda kesiapan ini kerap terlihat dari perubahan sederhana dalam pola hidup sehari-hari. Seseorang mulai lebih teratur, lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri, serta lebih sering mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan yang diambil. Fokus hidup juga cenderung bergeser dari kepuasan sesaat menuju tujuan yang lebih berkelanjutan.

Mengacu pada berbagai temuan yang dikutip dari Psychology Today, komitmen pada banyak pria lebih berkaitan dengan kondisi hidup dan waktu, bukan semata-mata daya tarik pasangan. Ketika seseorang merasa siap untuk menetap, ia cenderung membangun hubungan yang lebih serius dengan pasangan yang sedang dijalani, selama hubungan tersebut dianggap sehat dan selaras dengan nilai pribadi. Dengan kata lain, kesiapan sering kali menjadi faktor yang lebih dominan dibanding pencarian sosok yang dianggap sempurna.

Jon Patrick Hatcher, M.A., penulis buku 101 Cara Mengatasi Kecemasan Remaja dan Keluarga, menjelaskan bahwa keputusan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius biasanya dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan. “Karier yang mulai stabil, kondisi finansial yang lebih mapan, atau munculnya keinginan untuk membangun keluarga dan memiliki anak—faktor-faktor inilah yang sering menjadi pendorong utama seseorang melangkah ke jenjang yang lebih serius,” tulis Hatcher dalam salah satu analisisnya tentang psikologi pernikahan.

Namun, dinamika ini juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peluang pria untuk menikah untuk pertama kalinya cenderung menurun setelah memasuki akhir usia 30-an. Hal ini bukan berarti keinginan untuk berkeluarga hilang, melainkan karena kebiasaan hidup yang sudah terbentuk membuat banyak orang semakin nyaman dengan kemandirian dan rutinitas yang ada.

Seiring bertambahnya usia, banyak individu telah membangun pola hidup yang stabil, mulai dari karier, finansial, hingga kebiasaan harian. Kondisi ini membuat keputusan untuk menikah menjadi pertimbangan yang lebih kompleks. Komitmen tidak lagi sekadar langkah emosional, tetapi juga perubahan besar yang berpotensi mengubah ritme hidup yang sudah nyaman.

Fenomena ini juga erat kaitannya dengan perubahan nilai dalam kehidupan modern. Kemandirian dan kebebasan pribadi kini semakin dihargai, sehingga tidak sedikit pria yang memilih menunda pernikahan hingga merasa benar-benar siap secara emosional dan finansial. Namun, di sisi lain, ketika kesiapan tersebut tercapai di usia yang lebih matang, sebagian orang justru merasa enggan mengubah pola hidup yang sudah mapan.

Pada akhirnya, perjalanan menuju pernikahan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang hadir dalam hidup seseorang, tetapi juga oleh waktu ketika ia merasa siap menjalani komitmen. Bagi banyak pria, pernikahan bukan sekadar menemukan orang yang tepat, melainkan juga berada pada fase hidup yang tepat untuk membangun masa depan bersama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|