Jakarta, CNBC Indonesia - Peringatan keras datang dari industri energi global terkait potensi krisis baru di Eropa. Jika jalur vital Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, kawasan tersebut berisiko mengalami kekurangan energi dan bahan bakar dalam waktu dekat, bahkan lebih cepat dari yang dikhawatirkan.
Chief Executive Officer Shell Wael Sawan mengatakan perusahaannya tengah bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu mengatasi krisis pasokan minyak dan gas, yang sebelumnya sudah memicu kebijakan penjatahan energi di sejumlah negara Asia.
Harga minyak sempat turun ke sekitar US$100 per barel pada Rabu dari level sekitar US$114 per barel di awal pekan, menyusul laporan bahwa Gedung Putih mengirim rencana perdamaian 15 poin kepada para pemimpin Iran.
Namun, Sawan memperingatkan bahwa tanpa kembalinya pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz, Eropa dapat menghadapi kekurangan bahan bakar fosil dalam hitungan minggu.
"Asia Selatan yang pertama merasakan dampaknya. Itu kemudian bergeser ke Asia Tenggara, Asia Timur Laut, dan kemudian lebih jauh ke Eropa saat kita memasuki April," kata Sawan dalam konferensi industri minyak di negara bagian Texas, dikutip dari The Guardian, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan krisis yang kini memasuki minggu keempat telah memengaruhi pasokan bahan bakar pesawat, yang harganya telah melonjak dua kali lipat sejak konflik dimulai. Tekanan berikutnya kemungkinan terjadi pada diesel, kemudian bensin, seiring dimulainya musim perjalanan musim panas di Amerika Serikat dan Eropa.
Peringatan tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche yang juga berbicara di konferensi yang sama. Ia mengatakan kelangkaan pasokan energi dapat terjadi pada akhir April atau Mei jika konflik terus berlanjut.
Reiche juga menilai keputusan Jerman untuk menghentikan penggunaan energi nuklir merupakan kesalahan besar, dan menambahkan bahwa peningkatan impor gas melalui kapal tanker berpendingin tinggi dari luar negeri akan menjadi bagian penting dari solusi.
Ancaman terhadap pasokan energi Eropa juga berpotensi menyeret ekonomi global ke resesi berkepanjangan jika harga minyak mencapai US$150 per barel.
Kepala perusahaan keuangan AS BlackRock Larry Fink mengatakan dalam wawancara dengan BBC bahwa jika Iran tetap menjadi ancaman dan harga minyak bertahan tinggi, dampaknya akan sangat besar bagi ekonomi dunia.
Menurut Fink, masih terlalu dini menentukan skala penuh konflik, namun ia menguraikan dua skenario. Skenario pertama adalah resolusi penuh konflik yang memungkinkan harga minyak kembali ke tingkat sebelum krisis sekitar US$70 per barel. Skenario kedua adalah konflik berkepanjangan yang mendorong harga ke rekor tertinggi.
Sementara itu, juru bicara pemerintah Inggris mengatakan negaranya memiliki pasokan energi yang beragam dan tangguh. "Inggris memiliki pasokan energi yang beragam dan tangguh. Kami terus bekerja dengan mitra terkait situasi internasional," ujarnya.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































