Newswire Rabu, 19 Agustus 2026 12:57 WIB

Kerusakan jalan akibat gempa M7,7 NTT di Jalur Pantai Utara, Pulau Flores, NTT. /Istimewa-Dok. KKN UMY.
Harianjogja.com, KUPANG—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.768 gempa bumi susulan menerpa wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rentetan aktivitas seismik ini terjadi pascagempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 hingga Rabu (19/8/2026) pukul 06.00 WITA.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyasmata, menyampaikan bahwa dari ribuan gempa susulan tersebut, kekuatan getaran cukup bervariasi. Gempa susulan dengan magnitudo terbesar tercatat mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil berada di angka M1,1.
"Total gempa bumi susulan hingga tanggal 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA, sebanyak 2.768 kejadian. Magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1," kata Arief, Rabu (19/8/2026).
Berdasarkan data teknis BMKG, sebanyak 24 kejadian gempa susulan di antaranya memiliki kekuatan magnitudo di atas 5. Selain itu, dilaporkan terdapat 81 guncangan gempa susulan yang getarannya dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Arief menjelaskan bahwa tren aktivitas gempa susulan di Flores hingga saat ini masih belum stabil. Evaluasi melalui grafik peluruhan gempa menunjukkan bahwa frekuensi guncangan masih berubah-ubah.
"Dari grafik peluruhan masih fluktuatif dan belum terlihat jelas pola peluruhannya," ujarnya.
Melihat kondisi geografis dan rekaman seismik tersebut, Arief memperkirakan potensi gempa susulan masih akan terus berlangsung. Dibutuhkan waktu beberapa pekan ke depan sebelum kondisi tektonik di wilayah tersebut benar-benar meluruh dan kembali normal.
"Estimasi sekitar dua sampai drei minggu ke depan akan stabil," katanya.
Guna mengantisipasi dampak lanjutan, BMKG memastikan terus memantau secara intensif perkembangan aktivitas kegempaan di Flores dan area sekitarnya. Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tetap tenang, serta berpatokan pada saluran informasi resmi BMKG agar terhindar dari isian isu liar maupun kabar bohong yang meresahkan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tim gabungan untuk memetakan dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim melakukan survei makroseismik, pengujian karakteristik respons tanah, pemantauan gempa susulan, hingga verifikasi dampak tsunami di wilayah terdampak.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan pengujian karakteristik tanah dilakukan melalui pengukuran mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). Pengukuran tersebut dilakukan di sejumlah wilayah yang terdampak gempa.
"Tim dari pusat dan UPT BMKG itu melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW, untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































