Foto ilustrasi seismograf pencatat getaran gempa. / Foto dibuat oleh AI StockCake
Harianjogja.com, MANADO—Gempa bumi kuat mengguncang wilayah barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Kamis (2/4) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa ini dipicu aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault.
Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan gempa tersebut tergolong dangkal berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter. “Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi,” ujarnya.
Analisis BMKG menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault) yang umum terjadi di wilayah pertemuan lempeng aktif seperti di Laut Maluku. Wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu sumber gempa aktif di Indonesia.
Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah daerah. Di Kota Ternate intensitas mencapai V-VI MMI, yang membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Getaran juga dirasakan di Manado (IV-V MMI), Gorontalo hingga beberapa wilayah di Sulawesi Utara dengan intensitas lebih rendah.
BMKG menetapkan potensi tsunami dengan status siaga di sejumlah wilayah, termasuk Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian wilayah Minahasa. Sementara status waspada diberlakukan di Kepulauan Sangihe dan sebagian wilayah Bolaang Mongondow.
Pemantauan alat pengukur muka laut (tide gauge) mencatat adanya kenaikan permukaan air laut di beberapa titik. Di Halmahera Barat, gelombang terdeteksi setinggi 0,30 meter, di Bitung 0,20 meter, dan di Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak beraktivitas di pesisir pantai hingga ada pengumuman resmi bahwa ancaman tsunami telah berakhir.
“Masyarakat diminta tetap tenang, tidak panik, namun menjauhi pantai dan mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Gempa ini awalnya berkekuatan magnitudo 7,6 sebelum dimutakhirkan menjadi 7,3. Episenter berada di koordinat 1,25 lintang utara dan 126,27 bujur timur, dengan kedalaman antara 18 hingga 62 kilometer.
BMKG juga mencatat sedikitnya 15 gempa susulan terjadi setelah gempa utama, menandakan aktivitas tektonik di kawasan tersebut masih berlangsung.
Meski terjadi kenaikan muka air laut di beberapa wilayah, hingga kini belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa. Pemerintah daerah di wilayah siaga diminta segera melakukan evakuasi, sementara masyarakat di wilayah waspada diimbau menjauhi pantai dan tepian sungai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
















































