REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada irama lama yang berulang dalam sejarah manusia, irama yang tidak lekang oleh zaman, tidak pudar oleh kemajuan, dan tidak kalah oleh gemerlap peradaban. Ia adalah kisah tentang kebenaran yang datang… dan ditertawakan.
Alquran mengabadikan irama itu dalam nada yang tenang, namun mengguncang:
وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِن نَّبِىٍّ فِى ٱلْأَوَّلِينَ
wa kam arsalnā min nabiyyin fil-awwalīn
“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu (az-Zukhruf ayat 6).”
Ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghayb, bukan sekadar informasi tentang jumlah. Kata kam di sini bukan angka, melainkan gema. Ia adalah cara Alquran membuka tabir sejarah dengan nada keheranan: betapa seringnya kebenaran datang, dan betapa seringnya ia diabaikan.
Seakan-akan langit telah berkali-kali mengetuk pintu bumi, namun pintu itu tetap tertutup, bukan karena tak ada yang mengetuk, melainkan karena hati di dalamnya enggan membuka.
Lalu ayat berikutnya menyingkap respons manusia terhadap utusan itu:
وَمَا يَأْتِيهِم مِّن نَّبِىٍّ إِلَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ
wa mā yatīhim min nabiyyin illā kānụ bihī yastahziụn
“Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”
Dalam tafsirnya, ar-Razi mengurai kata yastahzi’ūn sebagai bentuk penolakan yang bukan sekadar intelektual, tetapi emosional, sebuah penolakan yang lahir dari keangkuhan. Bukan karena mereka tidak memahami, tetapi karena mereka tidak mau tunduk.
Di sinilah manusia seringkali gagal membedakan antara cahaya dan silau. Cahaya menuntun, tetapi silau membutakan. Ketika kebenaran datang membawa cahaya, mereka yang telah terbiasa dengan kegelapan justru merasa terganggu, lalu menertawakannya, seolah-olah tawa bisa meredam kebenaran.
Padahal, tawa itu hanyalah gema kosong di lembah kesombongan. Namun sejarah tidak berhenti pada penolakan. Ia bergerak, dan hukum Ilahi pun berjalan:
فَأَهْلَكْنَآ أَشَدَّ مِنْهُم بَطْشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ ٱلْأَوَّلِينَ
fa ahlaknā asyadda min-hum baṭsyaw wa maḍā maṡalul-awwalīn
“Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu dan telah terdahulu perumpamaan umat-umat masa dahulu (az-Zukhruf ayat 8).”

5 hours ago
3















































