Banjir Demak Belum Reda Usulan Bendungan Baru Menguat

3 hours ago 2

Banjir Demak Belum Reda Usulan Bendungan Baru Menguat Upaya menekan banjir berulang di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kini mengerucut pada kebutuhan pembangunan infrastruktur pengendali aliran sungai. Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana mengusulkan pembangunan bendung di dua aliran utama, yakni Sungai Senjoyo dan Sungai Bancak. - Antara.

Harianjogja.com, DEMAK—Upaya menekan banjir berulang di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kini mengerucut pada kebutuhan pembangunan infrastruktur pengendali aliran sungai. Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana mengusulkan pembangunan bendung di dua aliran utama, yakni Sungai Senjoyo dan Sungai Bancak.

Usulan tersebut mencuat dalam rapat koordinasi penanganan banjir bersama Ahmad Luthfi di Kantor Kecamatan Guntur, Sabtu. Kepala Operasional dan Pemeliharaan BBWS Pemali Juana, Andi Sofyan, menyebut hingga kini kedua sungai tersebut belum memiliki bangunan pengendali aliran air.

“Diperlukan bangunan pengendali dua aliran sungai,” ujarnya.

Menurutnya, ketiadaan bendung membuat aliran air dari hulu tetap deras menuju Demak. Bahkan, meskipun dilakukan penutupan di kawasan Rowo Pening, tanpa pengendali di Sungai Senjoyo dan Bancak, potensi banjir tetap tinggi.

Selain itu, penanganan Sungai Tuntang juga dinilai perlu dipercepat melalui normalisasi bertahap. Di lapangan, sejumlah tanggul memang sudah diperkuat, namun masih ada titik yang mengalami limpasan saat hujan deras.

Kondisi bantaran sungai juga menjadi sorotan. Keberadaan pohon dan berbagai hambatan dinilai memperlambat aliran air sehingga memperparah genangan di sejumlah wilayah.

Di sisi lain, rencana pemindahan alur Sungai Tuntang dinilai kurang efektif. Infrastruktur seperti jembatan dan jalan di bantaran sungai justru berpotensi menghambat laju air.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Demak, Ahmad Sugiharto, menekankan pentingnya optimalisasi fungsi Bendung Gelapan di Kabupaten Grobogan untuk menjaga stabilitas debit air.

“Dari hasil pengecekan, setiap 30 menit terjadi kenaikan debit air yang cukup signifikan. Ditambah lagi sedimen yang tinggi, sehingga diperlukan optimalisasi daya tampung,” ujarnya.

Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat air dari wilayah hulu cepat melimpas ke hilir, termasuk Demak, bahkan ketika wilayah setempat tidak diguyur hujan.

Selain normalisasi, pembangunan pintu air atau bendung tambahan di sejumlah titik sungai juga dinilai mendesak. Langkah ini diharapkan mampu menahan aliran air agar tidak langsung mengalir deras ke hilir.

“Dengan adanya tampungan air yang lebih banyak dan pengaturan aliran yang baik, diharapkan air tidak langsung turun ke hilir secara cepat,” katanya.

Langkah terpadu antara pembangunan infrastruktur dan pengelolaan aliran sungai dinilai menjadi kunci untuk mengurangi risiko banjir yang selama ini berulang di Demak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|