Bagaimana AI Menggunakan Air Bersih Kita?

2 hours ago 3

Image Nadya

Teknologi | 2026-06-22 15:33:27

Tempat Pusat Data Paling Kuat di Dunia

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin pesat dalam kehidupan manusia. Saat ini, banyak orang menggunakan chatbot AI untuk membantu menulis, menjawab pertanyaan, menyusun kode, membuat ide, hingga menyelesaikan tugas sehari-hari. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang jarang disadari, yaitu penggunaan air dalam proses kerja teknologi AI. Video BBC World Service berjudul How AI uses our drinking water menjelaskan bahwa lebih dari satu miliar pesan dikirim ke chatbot AI setiap hari, dan setiap interaksi tersebut membutuhkan sumber daya, termasuk air.

Air digunakan dalam sistem AI karena teknologi ini bergantung pada pusat data atau data center. Pusat data merupakan tempat penyimpanan dan pengolahan data yang berisi banyak server serta chip komputer berdaya tinggi. Ketika pengguna mengirimkan perintah kepada AI, sistem harus melakukan perhitungan yang kompleks untuk memahami pertanyaan dan menghasilkan jawaban. Proses ini membuat perangkat keras bekerja sangat berat sehingga menghasilkan panas. Agar server tidak rusak, pusat data harus didinginkan secara terus-menerus.

Salah satu cara pendinginan yang digunakan adalah sistem pendingin cair atau liquid cooling. Dalam sistem ini, cairan pendingin dialirkan melewati chip komputer untuk menyerap panas. Setelah itu, cairan panas dialirkan menuju unit penukar panas, kemudian didinginkan kembali dengan bantuan air. Sebagian air tersebut menguap dalam proses pendinginan, sedangkan sisanya dapat diputar kembali atau dibuang ke sumber air. Dalam proses tertentu, hingga 80 persen air dapat menguap.

Penggunaan air oleh AI menimbulkan kekhawatiran karena air yang digunakan umumnya berasal dari sumber air bersih. Air tersebut sebenarnya juga dibutuhkan untuk kebutuhan masyarakat, pertanian, kebersihan, dan konsumsi sehari-hari. Oleh karena itu, pembangunan pusat data di sejumlah wilayah dapat menimbulkan tekanan terhadap ketersediaan air lokal. Video tersebut juga menjelaskan bahwa protes terhadap pusat data pernah terjadi di beberapa negara, seperti Spanyol, India, Chili, Uruguay, dan beberapa wilayah Amerika Serikat, karena masyarakat khawatir terhadap dampaknya pada sumber air dan jaringan listrik.

Selain air yang digunakan secara langsung untuk pendinginan, AI juga membutuhkan air secara tidak langsung melalui penggunaan listrik. Pusat data memerlukan energi listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server dan sistem pendingin. Pembangkit listrik tertentu, seperti pembangkit berbahan bakar batu bara, gas, atau nuklir, juga membutuhkan air dalam proses operasionalnya. Dengan demikian, jejak air AI tidak hanya berasal dari pusat data, tetapi juga dari proses penyediaan energi listrik yang mendukungnya.

Menurut laporan International Energy Agency, kebutuhan listrik pusat data dunia diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030, mencapai sekitar 945 terawatt-jam. AI disebut sebagai salah satu pendorong utama peningkatan tersebut, terutama melalui pusat data yang dioptimalkan untuk kecerdasan buatan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga berhubungan erat dengan persoalan energi dan lingkungan.

Beberapa perusahaan teknologi besar mulai berupaya mengurangi dampak penggunaan air. Microsoft, Google, dan Meta, misalnya, memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang lebih bertanggung jawab terhadap penggunaan air pada tahun 2030. Microsoft menyatakan target untuk mengembalikan lebih banyak air daripada yang digunakan, sedangkan Meta dan Google juga menyampaikan komitmen serupa melalui program efisiensi, pemulihan sumber air, dan transparansi data penggunaan air.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Pertumbuhan AI yang sangat cepat menuntut adanya pengawasan, inovasi, dan kebijakan yang lebih kuat. Teknologi pendingin yang lebih hemat air, penggunaan energi terbarukan, pemanfaatan panas buangan, serta pembangunan pusat data yang mempertimbangkan kondisi lingkungan lokal menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak negatif AI.

Dengan demikian, kemajuan AI perlu dilihat secara lebih seimbang. AI memang memberikan banyak manfaat bagi manusia, tetapi teknologi ini juga memiliki biaya lingkungan yang tidak dapat diabaikan. Penggunaan air oleh AI menunjukkan bahwa setiap kemajuan digital tetap bergantung pada sumber daya alam. Oleh karena itu, masyarakat, pemerintah, dan perusahaan teknologi perlu bekerja sama agar perkembangan AI dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa mengorbankan ketersediaan air bersih bagi kehidupan manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|