AS Sebut Fasilitas Nuklir Iran Hancur Lebur, Teheran Beri Jawaban Menohok

16 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Narasi kemenangan dan klaim kegagalan kembali berkelindan dalam konflik Amerika Serikat dan Iran. Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer Washington telah melumpuhkan ancaman Teheran.

Di sisi lain, Iran dan sejumlah pengamat justru mempertanyakan capaian tersebut, terutama di tengah masih terganggunya jalur vital energi global, Selat Hormuz.

Dalam pidato terbarunya, Trump menegaskan bahwa Iran “pada dasarnya bukan lagi ancaman” setelah kampanye militer selama lebih dari satu bulan. Ia bahkan mengklaim fasilitas nuklir Iran telah “hancur lebur” dan memperingatkan akan adanya serangan lanjutan jika Teheran mencoba memulihkan kapasitasnya.

“Kita memegang semua kartu. Mereka tidak punya satu pun,” kata Trump, seraya menegaskan bahwa Amerika berada di jalur untuk menyelesaikan seluruh tujuan militernya dalam waktu dekat, sebagaimana diberitakan Foxnews.

Namun, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Media Iran menilai pidato tersebut lebih mencerminkan upaya membangun legitimasi politik daripada gambaran faktual di lapangan. Dalam analisisnya, Tasnim menyebut klaim kemenangan Washington sebagai “penyesuaian tujuan” agar dapat terlihat berhasil di akhir konflik.

Menurut mereka, sejumlah indikator justru menunjukkan situasi yang lebih kompleks. Gangguan di Selat Hormuz masih berlangsung, sementara Iran dinilai tetap memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan, termasuk melalui rudal.

“Jika kekuatan Iran benar-benar hancur, siapa yang masih mengganggu jalur pelayaran global?” demikian kritik yang muncul dalam narasi tersebut.

Di tengah perbedaan klaim tersebut, posisi Iran juga ditegaskan langsung oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Ia menyatakan bahwa masa depan Selat Hormuz tidak dapat ditentukan sepihak oleh kekuatan eksternal, melainkan menjadi kewenangan Iran bersama Oman sebagai negara pesisir.

“Pengaturan Selat Hormuz adalah urusan Iran dan Oman,” ujar Araghchi, seraya menambahkan bahwa jalur tersebut dapat menjadi “jalur perdamaian” jika dikelola melalui mekanisme bersama, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.

Selat Hormuz sendiri memiliki arti strategis yang sangat besar. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut. Namun, sejak konflik pecah, akses terhadap selat ini menjadi terbatas, dengan sejumlah kapal menghindari rute tersebut akibat risiko keamanan dan lonjakan biaya asuransi.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|