Jakarta, CNBC Indonesia - Turki, Pakistan, dan Mesir mengaku siap menjadi mediator atau penengah dari konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, di mana ketiga negara sudah saling berkomunikasi dengan pihak Washington dan Teheran dalam dua hari terakhir.
Kabar ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia memerintahkan penangguhan serangan yang direncanakan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Trump mengaitkan penangguhan tersebut dengan "keberhasilan" dalam pembicaraan dengan Iran, meskipun Iran membantah adanya negosiasi.
Laporan Axios, dikutip dari Daily Sabah menyebutkan bahwa para menteri luar negeri dari ketiga negara tersebut mengadakan pembicaraan terpisah dengan utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
"Proses mediasi sedang berlangsung dan menunjukkan kemajuan. Diskusi tersebut membahas tentang mengakhiri perang dan menyelesaikan semua masalah yang belum terselesaikan. Kami berharap akan segera mendapatkan jawaban," kata sebuah sumber yang mengetahui detailnya Selasa (24/3/2026).
Kantor berita semi-resmi Mehr sebagai sumber Iran mengatakan pihaknya membantah bahwa Washington dan Teheran saling bertemu dan "tidak ada dialog" antara keduanya.
Komentar Trump merupakan bagian dari upaya untuk menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militer. Mereka mengakui bahwa negara-negara di kawasan itu telah mengajukan inisiatif yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan.
"Kami bukanlah partai yang memulai perang ini, dan semua tuntutan semacam itu harus ditujukan kepada Washington," tambahnya.
Turki, negara tetangga Iran dan sekutu NATO AS, sangat ingin meredakan konflik tersebut.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan telah berulang kali mengumumkan bahwa mereka siap turun tangan untuk menengahi antara kedua negara, meskipun ia menyatakan kekhawatiran bahwa Israel, yang juga merupakan bagian dari konflik tersebut, akan lebih memilih untuk memperpanjang konflik.
Fidan melakukan panggilan telepon pada Senin kemarin dengan rekan-rekannya dari Mesir dan Norwegia. Sumber-sumber Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa Fidan, Espen Barth Eide dari Norwegia, dan Badr Abdelatty dari Mesir membahas upaya untuk menghentikan perang.
Diplomat utama Turki juga terlibat dalam diplomasi telepon pada Minggu lalu dengan rekan-rekannya di seluruh dunia, beberapa hari setelah ia bergabung dalam pertemuan para diplomat utama negara-negara Teluk mengenai konflik yang meluas ke seluruh wilayah tersebut.
(sef/sef)
Addsource on Google


















































