13 Produk Ekspor Terbesar Industri Pengolahan RI: CPO dan Nikel Juaranya

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja ekspor Indonesia mampu membukukan peningkatan 3,39% pada Januari 2026 menjadi US$ 22,16 miliar, dari sebelumnya per Januari 2025 sebesar US$ 21,43 miliar. Ditopang oleh peningkatan ekspor produk industri pengolahan.

Ekspor barang-barang dari industri pengolahan menjadi satu-satunya yang meningkat pada Januari 2026, berdasarkan sektor usahanya. Peningkatannya sebesar 8,19% dari US$ 17,11 miliar menjadi US$ 18,51 miliar.

Sementara itu, industri pertanian, kehutanan, dan perikanan justru minus 20,36% dari US$ 550 juta menjadi hanya US$ 440 juta. Demikian juga dengan ekspor dari sektor pertambangan dan lainnya merosot 14,59% dari US$ 2,72 miliar menjadi US$ 2,32 miliar.

"Pada awal 2026, ekspor industri pengolahan menunjukkan kinerja yang baik di tengah menurunnya ekspor pertanian atau perkebunan dan ekspor pertambangan," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti melalui keterangan tertulis, dikutip Selasa (3/3/2026).

Moncernya kinerja ekspor industri pengolahan ini ditopang oleh ekspor 13 komoditas utama. Ekspor produk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi yang terbesar dengan nilai US$ 2,69 miliar pada Januari 2026, meningkat 54,22% dibanding catatan Januari 2025 yang sebesar US$ 1,74 miliar.

Selanjutnya, berasal dari ekspor komoditas nikel dengan nilai US$ 1,03 miliar atau naik 42,31% dari Januari 2025 sebesar US$ 729,59 juta. Besi dan baja diurutan berikutnya dengan nilai US$ 978,83 juta, meningkat sekitar 14,96% dari catatan per Januari 2025 sebesar US$ 851,47 juta.

Komoditas lainnya ialah semikonduktor dan komponen elektronik lainnya yang naik 37,44% dari US$ 313,57 juta menjadi US$ 430,97 juta, lalu kendaraan bermotor roda empat atau lebih tumbuh 25,99% dari US$ 432,76 juta menjadi US$ 545,23 juta.

"Produk industri yang tumbuhnya sangat tinggi antara lain produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semikonduktor, dan kendaraan bermotor," ujar Amalia.

Selain itu, produk dari batu bara tumbuhnya menjadi salah satu yang tertinggi, dengan kenaikan 107,86% dari US$ 93,65 juta menjadi US$ 194,66 juta, bersamaan dengan produk timah dan olahannya pun mampu naik 191,38% dari Januari 2025 US$ 46,44 juta menjadi US$135,32 juta pada Januari 2026. Kimia dasar anorganik lainnya naik 67,19% dari US$ 135,85 juta menjadi US$ 227,12 juta.

"Produk olahan timah mampu tumbuh hingga 191 persen dipengaruhi kebijakan larangan ekspor bijih timah yang berdampak pada tumbuhnya ekspor produk olahan timah," ungkap Amalia.

Ekspor peralatan komunikasi juga mencatatkan nilai ekspor US$ 222,14 juta pada Januari 2026, meningkat 54,06% dibanding Januari 2025 yang sebesar US$ 144,19 juta. Kinerja serupa terjadi pada mesin untuk keperluan umum yang tumbuh 41,54% dari US$ 182,98 juta menjadi US$ 258,99 juta.

Ekspor kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian meningkat 9,33%, dari US$ 798,94 juta menjadi US$ 873,47 juta. Komoditas alas kaki untuk keperluan sehari-hari juga menunjukkan pertumbuhan 30,04%, dengan nilai ekspor naik dari US$ 226,69 juta menjadi US$ 294,78 juta.

Adapun motor listrik, generator, dan transformator mencatatkan kenaikan 41,75% secara tahunan, dari US$ 158,21 juta pada Januari 2025 menjadi US$ 224,25 juta pada Januari 2026.

BPS mencatat tujuan utama ekspor nonmigas terbesar Indonesia adalah China, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77% pada Januari 2026. China masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80%), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar (11,82%) dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15%).

"Total ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada Januari 2026 adalah sebesar US$ 2,82 miliar atau tumbuh 13,60% dibandingkan dengan Januari tahun sebelumnya (y-on-y)," tutur Amalia.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|