12 Update Baru AS-Israel vs Iran, Trump Sebut Perang Kelar 4 Minggu

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran terus memanas dan menimbulkan korban besar lintas negara. Ratusan orang dilaporkan tewas dan terluka, dengan Iran menjadi wilayah paling terdampak akibat rangkaian serangan udara dan balasan rudal yang masih berlangsung.

Berikut update terbaru terkait situasi perang AS-Israel di Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber pada Senin (2/3/2026).

1. Ratusan Tewas di Iran, Korban Meluas ke Beberapa Negara

Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran menimbulkan ratusan korban jiwa dan luka-luka di kawasan. Hingga Minggu (1/3/2026) waktu setempat, sebanyak 201 orang tewas dan 747 luka-luka di Iran, menjadikannya negara dengan korban terbanyak.

Palang Merah Iran melaporkan operasi penyelamatan masih berlangsung. Insiden paling mematikan terjadi di Minab, Iran tenggara, saat serangan ke sekolah dasar putri menewaskan sedikitnya 148 orang.

Di Israel, serangan rudal Iran menewaskan 9 orang dan melukai 121 lainnya, termasuk akibat hantaman di Beit Shemesh dan Tel Aviv.

Sementara itu, tiga tentara Amerika Serikat tewas dan lima luka parah, menurut pernyataan Komando Pusat AS. "Operasi tempur utama terus berlanjut," tulis Komando Pusat AS.

Korban juga dilaporkan di sejumlah negara lain, termasuk Uni Emirat Arab (3 tewas, 58 luka), Kuwait (1 tewas, 32 luka), serta luka-luka di Qatar, Oman, Irak, dan Bahrain. Tidak ada korban jiwa dilaporkan di Arab Saudi dan Yordania.

2. Trump: Operasi Militer AS ke Iran Bisa Rampung 4 Pekan

Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran diperkirakan akan berlangsung selama sekitar empat minggu. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Inggris Daily Mail pada Minggu.

"Ini selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu," kata Trump kepada Daily Mail.

Ia menambahkan, meskipun Iran merupakan negara besar dan kuat, operasi militer tersebut tidak akan memakan waktu lama.

"Sekuat apapun negara itu, ini adalah negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau bahkan kurang," ujarnya.

Pernyataan ini menambah sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah, seiring meningkatnya intensitas serangan militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.

3. Sosok Pemimpin Tertinggi Sementara Iran

Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi sementara usai wafatnya Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Penunjukan dilakukan untuk menjaga stabilitas pemerintahan selama masa transisi. Sesuai konstitusi, Pemimpin Tertinggi definitif akan dipilih oleh Majelis Pakar, lembaga beranggotakan sekitar 90 ulama senior.

Selama periode ini, Arafi menjadi bagian dari Dewan Kepemimpinan sementara bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei. Dewan tersebut menjalankan kewenangan Pemimpin Tertinggi hingga pengganti tetap ditetapkan.

Arafi lahir di Meybod, Provinsi Yazd, pada 1959 dan menempuh pendidikan keagamaan di Qom. Ia dikenal berpengaruh melalui jalur kelembagaan, termasuk saat memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa (2009-2018), serta memiliki kedekatan dengan Khamenei yang membawanya ke sejumlah posisi strategis.

Dikenal bersikap keras terhadap AS, Arafi menyebut Washington sebagai "pusat pelanggaran HAM." Iran kini memasuki masa berkabung nasional 40 hari, sementara perhatian tertuju pada keputusan Majelis Pakar dalam menentukan Pemimpin Tertinggi baru.

4. Negara Muslim Ngamuk Khamenei Dibunuh

Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran hukum internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Sharif pada Minggu (1/3/2026) melalui akun media sosial X. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada rakyat Iran atas wafatnya Khamenei.

"Rakyat Pakistan turut berduka cita bersama rakyat Iran di saat kesedihan dan duka cita mereka dan menyampaikan belasungkawa yang paling tulus atas kemartiran Ayatollah Ali Khamenei," tulis Sharif, seperti dikutip AFP.

Sharif juga menegaskan bahwa Islamabad menaruh perhatian serius terhadap implikasi hukum internasional dari peristiwa tersebut. "Pakistan juga menyatakan keprihatinan atas pelanggaran norma-norma hukum internasional," tambahnya.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|