Warga Eropa Tolak Serangan AS-Israel ke Iran, Mayoritas Pilih Netral

3 hours ago 2

Warga Eropa Tolak Serangan AS-Israel ke Iran, Mayoritas Pilih Netral Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua - Shadati

Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang penolakan terhadap eskalasi militer di Timur Tengah kian menguat di daratan Eropa seiring dengan rilis sejumlah hasil jajak pendapat terbaru.

Mayoritas penduduk di negara-negara besar seperti Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris secara tegas menyatakan ketidaksetujuan mereka atas serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Berdasarkan data jajak pendapat yang dirilis pada Jumat (6/3/2026), masyarakat di empat negara tersebut cenderung mendesak pemerintah masing-masing untuk mengambil sikap hati-hati atau tetap netral.

Sentimen publik ini muncul sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan global pasca-serangan gabungan yang memicu ketidakstabilan luas di kawasan Teluk.

Di Spanyol, lembaga riset 40dB mencatat angka penolakan yang sangat signifikan mencapai 68 persen. Survei untuk surat kabar El Pais dan radio Cadena SER tersebut juga mengungkap bahwa sebagian besar warga mendukung keputusan Perdana Menteri Pedro Sanchez untuk menjauh dari keterlibatan militer.

"Survei itu juga menunjukkan 57 persen responden mendukung keputusan Spanyol untuk tidak memberikan dukungan militer kepada AS dan Israel, sementara 53 persen berpendapat AS seharusnya tidak diizinkan menggunakan pangkalan militer di Spanyol dalam konflik tersebut," tulis laporan tersebut yang juga mencatat bahwa hampir 80 persen warga Spanyol merasa sangat khawatir dengan perkembangan konflik.

Tren serupa menjalar ke Italia, di mana riset YouTrend untuk Sky TG24 menunjukkan 56 persen responden menentang intervensi militer. Meskipun terdapat polarisasi politik antara pemilih sayap kanan dan kiri, arus utama publik Italia lebih menginginkan pemerintah berperan sebagai penengah.

"Sekitar 48 persen responden berpendapat pemerintah Italia seharusnya tetap netral dan berperan sebagai mediator di antara pihak-pihak yang bertikai, sementara 29 persen menyatakan pemerintah perlu mengecam serangan itu dan segera menyerukan gencatan senjata," tulis hasil riset tersebut.

Kondisi yang lebih kritis terlihat di Jerman melalui survei lembaga penyiaran publik ARD. Tingkat kepercayaan publik Jerman terhadap AS merosot tajam hingga ke level 15 persen, angka terendah dalam dua dekade terakhir. Sebanyak 58 persen warga Jerman menilai agresi militer tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan.

"Survei itu juga menunjukkan hanya 17 persen responden yang menganggap Israel sebagai mitra yang dapat diandalkan, sementara 85 persen berpendapat politik global semakin didominasi oleh sistem di mana 'kekuatan menentukan kebenaran'," ungkap laporan ARD yang menyoroti ketakutan warga akan meluasnya perang.

Sementara itu di Inggris, analisis data dari YouGov menunjukkan bahwa dukungan terhadap aksi militer sangat terbatas. Bahkan setelah serangan dilancarkan, hampir separuh warga Inggris menolak tindakan tersebut dan mayoritas keberatan jika pangkalan udara mereka digunakan oleh militer AS.

"Survei itu juga menunjukkan 45 persen warga menilai pemerintah Inggris seharusnya tidak memuji maupun mengecam serangan AS terhadap Iran," tambah laporan YouGov yang juga mencatat rendahnya rapor Perdana Menteri Keir Starmer dalam menangani krisis ini.

Eskalasi di kawasan memang mencapai titik nadir setelah serangan udara gabungan pada 28 Februari lalu yang menelan ribuan korban jiwa, termasuk tokoh-tokoh kunci dan warga sipil.

Situasi ini memicu serangan balasan dari Teheran terhadap aset-aset AS di Timur Tengah, yang kini semakin meningkatkan tekanan bagi pemimpin negara-negara Eropa untuk segera mengupayakan jalur de-eskalasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|