Tak Lewat Selat Hormuz, Ini Rute Ekspor Beras RI ke Arab Saudi

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memastikan pengiriman beras dari Indonesia untuk kebutuhan konsumsi jamaah haji di Arab Saudi tetap berjalan, meski kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah tengah memanas dan memicu isu penutupan Selat Hormuz.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, beras yang diekspor dari Indonesia tersebut akan berlabuh di Pelabuhan Islam Jeddah (Jeddah Islamic Port), Arab Saudi, dan diyakini akan tiba dengan aman.

"(Nantinya akan berlabuh) di Jeddah, dan tiba dengan aman insya Allah," kata Amran saat ditemui di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dengan demikian, pengiriman beras dari Indonesia ke Arab Saudi untuk kebutuhan jamaah haji dipastikan tidak melalui Selat Hormuz. Dimana jalur pelayaran menuju Pelabuhan Jeddah di pesisir barat Arab Saudi umumnya melintasi Samudra Hindia dan masuk ke Laut Merah melalui Bab el-Mandeb, sebelum akhirnya bersandar di Jeddah.

Ia juga optimistis pengiriman tetap bisa tiba tepat waktu, meski dinamika geopolitik sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

"Insya Allah aman. Aman sampai di Jeddah," ujarnya.

Menanggapi isu sejumlah jalur perdagangan menuju Timur Tengah sempat mengalami buka-tutup akibat situasi keamanan, Amran mengatakan pengiriman tetap bisa dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Pelepasan ekspor Beras Befood Nusantara untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia di Gudang BULOG Kanwil DKI Jakarta & Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Pelepasan ekspor Beras Befood Nusantara untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia di Gudang BULOG Kanwil DKI Jakarta & Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Pelepasan ekspor Beras Befood Nusantara untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia di Gudang BULOG Kanwil DKI Jakarta & Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

"Kita masuk pada saat dibuka," ucap dia.

Menurutnya, perubahan jalur pelayaran juga berpotensi membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan proses pengiriman beras untuk kebutuhan jamaah haji Indonesia masih menunggu jadwal keberangkatan kapal.

"Insyaallah rencananya ini kan nanti (mulai berlayar) tanggal 7 Maret, baru pemberangkatan, kalau sesuai jadwal ya. Nah ini kan kita mengikuti dinamika perkembangan geopolitik yang ada di sana," kata Rizal dalam kesempatan yang sama.

Ia menegaskan, pemerintah berupaya menyiapkan proses ekspor semaksimal mungkin sesuai arahan dalam rapat koordinasi terbatas (Rakortas).

"Intinya di sini pemerintah menyiapkan semaksimal mungkin sesuai dengan yang diperintahkan dalam Rakortas, khususnya kami menyiapkan dan mendorong semaksimal mungkin untuk bisa ekspor. Nah untuk proses kelanjutannya kita mengikuti perkembangan dinamika di lapangan," ujarnya.

Bulog juga telah meminta penilaian dari sejumlah lembaga intelijen dan kementerian terkait, guna memastikan keamanan pengiriman beras tersebut.

"Namun kami juga sudah bersurat ke BAIS (Badan Intelijen Strategis) TNI, ke BIN (Badan Intelijen Negara), kemudian ke Kemenlu (Kementerian Luar Negeri), memohon asesmen terkait dengan pemberangkatan beras haji Indonesia ini," kata Rizal.

Terkait potensi keterlambatan pengiriman akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, Rizal mengatakan pihaknya masih menunggu hasil penilaian dari lembaga-lembaga tersebut.

"Nah ini kita menunggu informasi lebih lanjut dari asesmen, dari tiga institusi tersebut," pungkasnya.

(wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|