SMA dan SMK di Perbatasan Gunungkidul Kekurangan Siswa

9 hours ago 4

SMA dan SMK di Perbatasan Gunungkidul Kekurangan Siswa

Foto siswa SMA.- Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Gunungkidul telah selesai. Meski proses pendaftaran dan pengumuman berjalan lancar secara daring, sejumlah SMA dan SMK negeri di wilayah pinggiran masih menghadapi persoalan klasik berupa kekurangan siswa baru.

Kondisi ini terutama terjadi di sekolah-sekolah yang berada di kawasan perbatasan dan daerah yang relatif jauh dari pusat perkotaan. Akibatnya, sejumlah rombongan belajar belum dapat terisi sesuai kuota yang telah ditetapkan.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Gunungkidul, Wasidi, mengatakan pelaksanaan SPMB tahun ini berlangsung secara online dan tidak menemui kendala berarti. Seluruh tahapan pendaftaran yang berlangsung pada 22-25 Juni 2026 juga telah selesai dengan hasil yang sudah diumumkan kepada calon peserta didik.

Namun demikian, hasil penerimaan menunjukkan masih ada beberapa sekolah yang belum mampu memenuhi kebutuhan siswa baru.

Menurut Wasidi, sekolah yang masih kekurangan murid antara lain SMA Negeri 1 Rongkop, SMK Negeri 1 Girisubo, SMK Negeri 1 Tanjungsari, SMK Negeri 1 Gedangsari, dan SMK Negeri 1 Tepus.

Jumlah kekurangan siswa di masing-masing sekolah berbeda-beda. Di SMA Negeri 1 Rongkop misalnya, masih terdapat kekurangan sekitar 28 siswa untuk memenuhi kuota yang tersedia.

Sementara itu, di SMK Negeri 1 Girisubo, sejumlah kompetensi keahlian juga belum mendapatkan jumlah peserta didik sesuai target. Jurusan Teknik Kendaraan Ringan masih kekurangan delapan siswa, sedangkan program Akuntansi masih kurang lima siswa.

Untuk jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT), jumlah siswa yang diterima baru mencapai 14 orang sehingga masih belum memenuhi kebutuhan rombongan belajar.

Wasidi menjelaskan, lokasi sekolah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat calon peserta didik. Banyak sekolah yang mengalami kekurangan siswa berada di wilayah pinggiran atau dekat dengan perbatasan daerah lain.

Kondisi tersebut membuat sebagian lulusan SMP memilih melanjutkan pendidikan ke luar Gunungkidul yang dianggap lebih dekat atau lebih menarik.

Ia mencontohkan, sejumlah lulusan SMP di Kapanewon Rongkop memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berada di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Selain faktor geografis, penurunan jumlah lulusan SMP dalam beberapa tahun terakhir juga turut berdampak terhadap jumlah pendaftar di tingkat SMA dan SMK.

Di sisi lain, pilihan pendidikan yang semakin beragam membuat persaingan antarsekolah semakin ketat. Kehadiran sekolah swasta dengan berbagai program unggulan turut memengaruhi distribusi calon peserta didik.

"Jumlah lulusan SMP memang semakin terbatas. Selain itu, pilihan sekolah juga semakin banyak sehingga calon siswa memiliki lebih banyak alternatif," kata Wasidi.

Secara keseluruhan, jumlah peserta didik baru yang diterima melalui SPMB tahun ini mencapai 6.228 siswa. Rinciannya, sebanyak 2.160 siswa diterima di SMA negeri dan 4.068 siswa diterima di SMK negeri.

Kepala SMK Negeri 1 Girisubo, Nugraha Wibowo, membenarkan bahwa sekolah yang dipimpinnya masih belum dapat memenuhi kuota penerimaan siswa baru tahun ini.

Meski demikian, ia menilai capaian tahun ini sebenarnya menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah siswa yang diterima tercatat lebih banyak 23 orang dibandingkan penerimaan pada 2025.

Menurut Nugraha, berkurangnya jumlah lulusan SMP menjadi salah satu penyebab utama belum terpenuhinya kuota siswa baru. Selain itu, banyak calon peserta didik yang lebih tertarik bersekolah di wilayah perkotaan karena dianggap memiliki fasilitas dan akses yang lebih lengkap.

"Animo lulusan SMP memang lebih banyak memilih sekolah di kawasan kota sehingga sekolah yang berada di wilayah pinggiran menghadapi tantangan tersendiri dalam menarik siswa baru," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sekolah-sekolah negeri di wilayah perbatasan untuk terus meningkatkan daya saing dan kualitas layanan pendidikan agar mampu menarik minat calon peserta didik pada tahun-tahun mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|