Jakarta, CNBC Indonesia - Industri daging nabati yang sempat digandrungi investor kini tengah menghadapi tekanan berat. Setelah melantai di bursa pada 2019 dengan valuasi hampir US$4 miliar atau sekitar Rp67.04 triliun, Beyond Meat kini hanya bernilai kurang dari US$400 juta atau Rp6,7 triliun seiring penurunan kinerja bisnisnya.
Melansir The Economist, pada 2020, penjualan daging nabati di Amerika Serikat sempat melonjak 45% menjadi US$1,4 miliar dan memicu lahirnya banyak startup baru. Namun dalam tiga kuartal pertama 2025 pendapatan Beyond Meat terus menyusut secara tahunan dan kemungkinan kembali turun pada kuartal terakhir, sementara proporsi warga AS yang rutin mengonsumsi produk ini tetap di level satu digit menurut survei YouGov untuk The Economist.
Di sisi lain, penjualan daging konvensional justru tumbuh pesat meski harga ternak dan pakan meningkat akibat penyusutan populasi hewan dan kenaikan biaya produksi. Industri menilai kondisi ini lebih sebagai koreksi ketimbang kolaps, meski mengakui adanya sejumlah tantangan struktural.
Salah satu kendala utama adalah harga yang masih relatif mahal dibandingkan daging biasa, sebagian karena subsidi pertanian yang menopang industri peternakan. Di Walmart, daging cincang sapi dijual US$7,43 per pon, sedangkan alternatif nabati dari Impossible Foods dibanderol US$9,04.
Faktor rasa juga menjadi persoalan karena sebagian produk dinilai belum memuaskan konsumen. CEO perusahaan daging nabati Inggris This, Mark Cuddigan, bahkan mengakui beberapa produk masih terasa "buruk", dan satu pengalaman negatif bisa membuat konsumen enggan mencoba lagi.
Produk daging nabati juga terseret dalam perang budaya di Amerika Serikat, terutama terkait kampanye "makanan asli" yang digaungkan sejumlah tokoh publik seperti Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. Kelompok pendukung daging hewani kerap menilai produk nabati tinggi lemak, garam, dan tergolong ultra-proses, meski menilai perbandingan dengan daging mentah tanpa bumbu tidak sepenuhnya adil.
Tantangan lain adalah klasifikasi produk sebagai makanan ultra-proses karena daftar bahan dan proses produksinya yang panjang. Investor food tech dari Synthesis Capital, David Welch, menilai konsumen sadar kesehatan kerap keliru menyamakan burger nabati dengan camilan seperti keripik kentang atau Oreo.
Untuk merespons tren diet tinggi protein dan serat, Impossible dan Beyond kini menonjolkan kandungan protein dalam kemasan produknya. Impossible menggandeng produsen roti dan pasta tinggi protein, sementara Beyond-yang tahun lalu menghapus kata "Meat" dari namanya-merambah minuman dengan meluncurkan air soda berperisa mengandung 20 gram protein per kaleng.
Sejumlah perusahaan juga bereksperimen dengan burger campuran setengah daging dan setengah nabati guna menjangkau konsumen yang lebih luas. Peneliti Food System Innovations, Tim Dale, menyebut produk ini berpotensi menarik bagi orang tua yang ingin menyelipkan sayuran ke dalam menu anak-anak mereka.
Di tengah kehati-hatian investor terhadap daging nabati, sebagian modal ventura mulai melirik daging hasil kultur sel atau cultivated meat yang diproduksi di laboratorium dari sel hewan. Meski beberapa negara bagian AS mengusulkan pelarangan, pelaku industri melihat kemajuan regulasi di tingkat federal dan di Inggris produk ini bahkan telah mendapat izin sebagai pakan hewan peliharaan.
Namun daging kultur sel masih menghadapi kendala biaya produksi yang tinggi. CEO Upside Foods, Uma Valeti, menilai dekade mendatang menjadi masa pembuktian untuk meningkatkan skala produksi secara bertahap agar industri protein alternatif tidak kembali terjebak dalam euforia berlebihan.
(fsd/fsd)
Addsource on Google


















































