
Sejumlah orang tua ada yang mengantre dan menunggu proses anaknya masuk asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulonprogo, Jumat (31/7/2026)/Harian Jogja-Khairul Ma\'arif\r\n
Harianjogja.com, KULONPROGO— Operasional Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulonprogo tetap berjalan meski proses perekrutan guru dan tenaga kependidikan (Tendik) definitif oleh Kementerian Sosial (Kemensos) belum rampung.
Untuk memastikan kegiatan belajar, pengasuhan, dan layanan asrama tetap berlangsung, puluhan tenaga bantuan dari pemerintah daerah hingga jaringan pendukung sosial diterjunkan sementara ke sekolah berasrama tersebut.
Langkah ini dilakukan karena SR Terintegrasi 1 Kulonprogo sudah mulai menjalankan aktivitas pendidikan. Kehadiran tenaga pendidik dan tenaga pendukung dinilai penting agar proses pembelajaran maupun pengasuhan siswa tidak mengalami kendala selama menunggu hasil rekrutmen resmi dari Kemensos.
Pelaksana tugas Kepala SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Agus Ristanto, menjelaskan seluruh tenaga yang saat ini bertugas merupakan bagian dari skema optimalisasi sumber daya dari berbagai instansi.
"Untuk pendidik dan tendik, bisa dikatakan semuanya ini adalah bentuk optimalisasi. Untuk guru, statusnya adalah guru tamu yang bersumber dari Pemkab Kulonprogo, Pemprov DIY, serta sekolah pendamping," ujar Agus saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
Puluhan Guru Tamu Diperbantukan
Agus mengungkapkan, total terdapat 40 guru tamu yang saat ini membantu penyelenggaraan pendidikan di SR Terintegrasi 1 Kulonprogo.
Jumlah tersebut terdiri atas 15 guru dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, 10 guru dari Pemerintah Daerah DIY, 10 guru dari Sekolah Rakyat Bantul, serta lima guru dari Sekolah Rakyat Sleman.
Keberadaan para guru tamu tersebut menjadi penopang utama kegiatan pendidikan sebelum tenaga pendidik definitif hasil seleksi Kemensos mulai bertugas.
Selain guru, sekolah juga mendapat dukungan tenaga kependidikan dalam jumlah cukup besar.
Sebanyak 32 personel Tendik diperbantukan untuk mendukung operasional sekolah. Komposisinya terdiri atas 16 personel dari SR Bantul dan 16 personel dari Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Kulonprogo.
Tagana Perkuat Operasional Asrama
Dukungan tidak hanya datang dari sektor pendidikan. Operasional asrama juga diperkuat oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang menempatkan 32 personel.
Mereka terbagi ke dalam sejumlah tugas layanan dasar, yakni 15 orang untuk kebersihan, 12 orang untuk keamanan, dan lima orang sebagai juru masak.
Menurut Agus, seluruh tenaga bantuan tersebut akan tetap bertugas hingga proses pengadaan pegawai resmi oleh Kemensos selesai sepenuhnya.
Ia menegaskan keberadaan tenaga perbantuan menjadi solusi agar layanan pendidikan dan pengasuhan di sekolah berasrama itu tidak terhenti.
"Kalau kami nanti pergi dari sini semua sementara rekrutmen belum bisa masuk, ya bubar nanti, kasihan anak-anak. Jadi proses ini berjalan mengikuti jadwal perekrutan resmi," tutur Agus.
Siswa Jalani MPLAS dan Matrikulasi
Saat ini para siswa SR Terintegrasi 1 Kulonprogo masih menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Asrama dan Sekolah (MPLAS) yang berlangsung selama dua pekan.
Setelah tahapan tersebut selesai, siswa akan mengikuti program matrikulasi sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar reguler.
Agus menjelaskan, matrikulasi dirancang untuk menyelaraskan kemampuan dasar siswa yang berasal dari latar belakang pendidikan dan lingkungan yang beragam.
Program tersebut difokuskan pada penguatan kompetensi dasar agar seluruh peserta didik memiliki kesiapan yang relatif setara saat memasuki proses pembelajaran reguler.
"Matrikulasi itu sebenarnya untuk penyepadanan saja. Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan literasi, numerasi, serta pendidikan dasar teknologi informasi (IT) sebagai pengenalan teknologi sebelum siswa masuk ke KBM reguler," jelasnya.
Pemkab Kulonprogo Siapkan Pendampingan Psikolog
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo juga memberikan perhatian terhadap aspek pengasuhan dan kondisi psikologis siswa.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kulonprogo, Ernawati Sukeksi, mengatakan model pendidikan berasrama yang diterapkan Sekolah Rakyat mempertemukan peserta didik dari jenjang SD hingga SMA dalam satu kawasan.
Kondisi tersebut membuat pengawasan harus dilakukan secara lebih intensif untuk mencegah potensi perundungan maupun gangguan antarsiswa dari kelompok usia yang berbeda.
Karena itu, sekolah menyiapkan sistem wali asuh yang berperan dalam mendampingi kehidupan siswa selama berada di lingkungan asrama.
Selain persoalan interaksi sosial, pemerintah juga memberi perhatian terhadap proses adaptasi anak-anak yang baru pertama kali tinggal jauh dari keluarga.
Menurut Ernawati, siswa usia dini memiliki potensi mengalami kerinduan terhadap orang tua atau homesick sehingga membutuhkan pendampingan khusus selama masa transisi.
“Anak-anak kelas 1 SD yang langsung dipisahkan dari keluarga dan tinggal di asrama tentu rentan mengalami rewel atau rindu orang tua hingga homesick. Pemkab Kulonprogo menyediakan tim psikolog khusus untuk memberikan pendampingan agar anak-anak dapat beradaptasi dengan baik,” ucap Ernawati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































