Rusia Krisis BBM, Mobil Listrik China Laris Manis

3 hours ago 2

Jumali

Jumali Sabtu, 04 Juli 2026 15:07 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Rusia telah menjadi pemicu lonjakan permintaan mobil listrik asal China. Kelangkaan bensin dan solar yang memicu antrean panjang serta kenaikan harga membuat banyak pengendara beralih ke kendaraan listrik dan hybrid untuk mengurangi ketergantungan pada BBM.

Serangan Ukraina yang semakin intensif terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir telah mengganggu pasokan bensin dan solar. Kondisi tersebut memaksa pemerintah setempat memberlakukan pembatasan distribusi BBM di sebagian besar wilayah Rusia. Harga bensin eceran di sejumlah daerah bahkan telah naik hingga menjadi salah satu yang tertinggi di Eropa, menurut perhitungan Reuters.

Mobil Listrik China Jadi Primadona

Meskipun pasar kendaraan listrik di Rusia selama ini tumbuh lambat karena jarak antarkota yang sangat jauh, cuaca ekstrem, serta keterbatasan stasiun pengisian daya, krisis BBM kini mulai mengubah perilaku konsumen. Pendiri EN Cars, diler mobil di Moskwa yang menjual berbagai merek kendaraan listrik asal China, Yevgeniy Zabelin, mengatakan penjualan mobil listrik melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.

"Sejak situasi bahan bakar menjadi rumit, permintaan meningkat berkali-kali lipat," ujarnya dikutip dari Reuters.

Menurut Zabelin, sebelum krisis BBM, diler hanya mampu menjual dua hingga tiga mobil listrik setiap bulan. Kini, jumlah tersebut meningkat menjadi dua hingga tiga unit setiap hari. Kenaikan permintaan terjadi baik untuk model berharga terjangkau maupun premium.

China Diuntungkan, Namun Stok Terbatas

Direktur Eksekutif lembaga riset otomotif Rusia Autostat, Sergei Udalov, mengatakan penjualan mobil listrik dan plug-in hybrid memang meningkat, tetapi masih terbatas karena produsen dan importir belum siap menghadapi lonjakan permintaan akibat krisis BBM. Akibatnya, stok kendaraan belum mencukupi untuk memenuhi permintaan yang melonjak. Namun, ia memperkirakan penjualan akan meningkat signifikan apabila krisis berkepanjangan.

"Apabila krisis ini berlanjut, penjualan akan tumbuh signifikan dalam waktu dekat, dan China akan menjadi pihak yang paling diuntungkan," katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa produsen mobil listrik China memiliki peluang besar untuk menguasai pasar Rusia di tengah keterbatasan pasokan dari negara lain dan tingginya kebutuhan akan kendaraan hemat energi.

Bagi konsumen Rusia, peralihan ke mobil listrik menjadi pilihan rasional di tengah ketidakpastian pasokan BBM. Meskipun infrastruktur pengisian daya masih terbatas, biaya operasional yang lebih rendah dan ketersediaan model-model China yang terjangkau menjadi daya tarik utama. Namun, tantangan seperti jarak tempuh dan ketersediaan stasiun pengisian masih menjadi pertimbangan penting, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.

Krisis ini menjadi momentum bagi industri otomotif Rusia untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebutuhan konsumen, sekaligus membuka peluang besar bagi produsen kendaraan listrik asal China untuk memperluas pangsa pasar mereka di negara beriklim ekstrem tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|